Oleh
: Edy Susanto
Korupsi
menjadi masalah yang sebenarnya juga menjadi masalah di seluruh negara di
dunia, bukan Indonesia saja. Tapi uniknya di Indonesia berita korupsi seperti
menjadi konsumsi wajib yang setiap hari hampir selalu ada. Jangan bilang sedang
di Indonesia kalau setiap pagi tidak dengar berita korupsi. Kalau televisi mu
tidak ada berita korupsi, jangan-jangan TV-nya yang rusak, sana dicek ke tukang
servis elektronik.
Syarat
menjadi pejabat di Indonesia selain bertaqwa pada Tuhan YME dan mengakui Pancasila
sebagai idealisme tunggal bernegara sepertinya harus dipertimbangkan juga
syarat kesiapan untuk korupsi. Kalau cuma syarat bertuhan kepada Tuhan YME
semua orang bisa saja bilang "saya bertuhan" sudah selesai, orang
tidak ada yang tahu kadar ketuhanan orang lain juga. Apalagi hanya untuk
mengakui Pancasila sebagai ideologi bernegara, itu sudah usang. Buktinya banyak
kok pejabat dari tingkat kroco sampai tingkatan jabatan bergengsi sudah kena
paparan radikaliasme. Nah makanya agar pejabat tidak mengingkari sumpahnya
harus ditambah sumpah jabatan yang tidak mungkin diingkari, ya "siap
korupsi". Tenang, uang rakyat negara masih banyak.
Yang
barusan saja terjadi dan booming, anggota DPR (yang notabennya instansi
paling banyak melahirkan koruptor)
mengkritik negara atas banyaknya koruptor di Indonesia setidaknya di 4 tahun
terakhir ini. Kata mereka banyaknya koruptor menandakan negara tidak
berprestasi.
Yang
bilang siapa bro kalau banyak koruptor itu artinya tidak berprestasi? Ya memang
bukan prestasi, kalau ente hidup di negara-negara Eropa, terutama Finlandia, Islandia
dan yang produk nasional koruptornya selalu rendah setiap tahunnya. Hla ini
kalian hidup di Indonesia, bilangnya juga di Indonesia. Penistaan kalau bilang
banyaknya koruptor itu prestasi buruk. Jangan salah, koruptor itu komoditasa
paling unggul di Indonesia. Selain itu juga produksi koruptor di Indonesia terhitung
produktif. Apaan itu Jepang yang
produksi masalnya cuma mobil, Amerika yang cuma robot mirip manusia? China yang
lagi banyak merk HP-nya. Kek gitu dibanggain? Contoh Indonesia, produksi
masalnya koruptor, asli manusia, bukan cuma mirip manusia, bisa ngendarai
mobilnya Jepang, eh beli juga bisa ding, banyak malah. Hape???? Itu cuma alat
standar koruptor buat dapat title koruptor.
Kalau
Indonesia bingung dikritik atas import yang tinggi tapi tidak bisa ekspor, ya
sudahlah, eksport saja koruptor-koruptor itu. Jelas kualitasnya, di penjara
masih bisa plesiran, ijin berobat saja bisa sampe lapangan tenis di Bali, dan
yang paling baru, bekas koruptor bisa nyaleg. Betapa indah Indonesia bukan?
Ekspor saja ke Finlandia atau Islandia, mereka kan kekurangan koruptor.
Satu-satunya komoditas unggulan itu. Itulah prestasi, eh sebenarnya bukan ding.
Terus apa yang jadi prestasi? Wong koruptor kok prestasi. Mari dibahas sedikit
serius. Serius lah biar lebih serius, hehe.
Mari kita awali dengan
membedakan korupsi dan koruptor dulu. Harus disepakati bahwa korupsi dan
koruptor adalah beda, itu wajib, agar tidak ada dusta diantara kita,
maksudnya agar tidak ada perdebatan tentang keduanya.
Korupsi adalah tindakan
penyelewengan keuangan Negara, setidaknya itu terjemahan dari KBBI online.
Sedangkan koruptor adalah orang yang menyelewengkan keuangan Negara, atau
pelaku korupsinya, dan itu juga dari KBBI online, jadi kalau salah pokoknya
harus benar.
Selama ini, maksudnya
sejak era kolonial sampai era yang sekarang ini, korupsi sepertinya selalu
terjadi, dan memang terjadi. Runtuhnya VOC yang menjadi kapal dagangnya Belanda
saat itu dan menjadi armada awal untuk melakukan kolonialisasi di Indonesia
kabarnya juga dikarenakan banyaknya korupsi yang menggerogoti lembaga tersebut.
Selain juga masalah biaya perang yang mahal. Korupsi juga yang sampai sekarang
menggerogoti keuangan Negara dan menyandera kesejahteraan anak bangsa Indonesia.
Redaksinya dibuat seperti itu biar agak ada gregetnya.
Lalu prestasinya di
mana???? Apa lantas itu jadi prestasi?? Jelas bukan dong. Itu jelas potret
buruk yang bahkan memalukan. Dan sebelum bicara prestasi, kita perlu juga
membahas koruptornya, juga hubungan antara koruptor dan korupsi. Tentu dengan
pemahaman ala warung kopi. Ok kita lanjutkan!
Apakah semua orang yang
mengambil atau menyelewengkan uang Negara bisa disebut koruptor? Jelas tidak,
selama mereka tidak ketahuan. Mana ada pejabat korupsi dan tidak ketahuan
bilang “aku koruptor lho” sedangkan yang ketangkap saja tidak suka dianggap
koruptor. Jadi, orang yang ngembat uang Negara, itu bukan koruptor. Tapi kalau
sudah ketangkap, dia baru jadi koruptor.
Yang jelas, tertangkap
atau tidak tertangkap, kegiatan paling produktif itu tetap berjalan. Korupsi
terus terjadi dan jumlahnya tentu lebih banyak dari jumlah koruptor. Angka
korupsi meningkat, itu pasti ketika tidak banyak koruptor yang tertangkap.
Banyaknya koruptor yang
tertangkap adalah bukti bahwa KPK bekerja dengan maksimal dan itulah prestasi
sesungguhnya. Seperti jaman kecil dulu, kalau orang kutu-an, kepalanya gatal, orang jawa sering mencari kutu di kepala,
biasanya disebut “petan” atau mencari
kutu. Semakin sedikit kutu yang didapat, dan kepala masih gatal, artinya yang
nyari kutu tidak serius atau tidak pintar. Tentu tidak pintar itu bukan
prestasi. Tapi, jika semakin banyak kutu yang didapat, dan kepala semakin tidak
gatal, itulah sesungguhnya pencari kutu terbaik sepanjang masa. Dan efeknya
kepala tidak gatal, dan kutu go away.
Koruptor, anggap saja
sama dengan kutu itu tadi, mereka tetap akan menggerogoti kesejahteraan rakyat,
menggerogoti keuangan Negara jika tidak diberantas. Seperti kutu yang
menggerogoti kepala, bahkan sampai borokan. Semakin banyak koruptor yang muncul
ke permukaan (maksudnya ketangkap dan mendapat titel koruptor) semakin
berprestasi KPK. Itulah cara petan-nya
KPK, meyisir koruptor untuk mengurangi angka korupsi, mengurangi duit (yang
katanya milik) rakyat yang digelapkan. Yang bangga siapa? Seluruh masyarakat Indonesia
lah, masa iya pejabat yang juga terancam ketangkap? Masih bilang itu prestasi
buruk? Jelas itu tren positif pencegahan dan penindakan korupsi.
Dengan banyaknya
koruptor yang tertangkap, berarti kegiatan korupsi dapat semakin ditekan. Para
pelaku korupsi semakin sedikit, dan korupsi juga semakin sedikit. Berbanding
terbalik dengan jumlah koruptor, seharusnya jumlah angka korupsi menurun, serta
nominaluang Negara yang hilang juga semakin sedikit. Seperti kutu di kepala
yang semakin habis. Biarpun terlihat banyak kutu yang ketangkap, tapi semakin
banyak juga bagian di kepala yang tak lagi dikuasai kutu. Begitu juga korupsi,
semakin banyak yang ketangkap, semakin banyak juga lahan basah korupsi yang
terselamatkan.
Masih bilang itu
prestasi buruk? Mari mikir lagi bareng-bareng, sambil ngopi pahit! Biar yang
pahit bukan Cuma nasibnya. Sudah ya!!! Selesai
bahas koruptor vs korupsi. mari ngopi sambil nunggu serangan fajar buat
coblosan (beberapa bulan lagi)!!!!! hehehehehe


0 Komentar