Oleh : Eni Faridah


Meski gaung kemanusiaan ⁣⁣
semakin lantang terdengar⁣⁣
Tapi senandung kidung mu ⁣⁣
masih sangat ku hafal⁣⁣⁣
Diantara malam ⁣⁣
yang memeluk sunyi kehidupan⁣⁣⁣
Juga temaram lampu ⁣⁣
yang merajai gelap⁣⁣⁣
Sebelum suara ledakan ⁣⁣
menjamah senyap⁣⁣⁣
Sebelum senapan ⁣⁣
menyasar dan lenyap⁣⁣⁣
Aku telah mengutuk luka ⁣⁣
tak bertepi⁣⁣⁣
Menyambut kegelisahan hari ⁣⁣
penuh arti⁣⁣⁣
Selain menepis sedih ⁣⁣⁣
Aku belajar mengubur mimpi ⁣⁣
yang tertinggi⁣⁣⁣
Meski segalanya tak akan berakhir ⁣
begitu saja⁣⁣⁣
Kepala ini sudah terlalu sibuk ⁣bertanya-tanya⁣⁣⁣
Bagaimana tawa temanku ⁣⁣
bisa kembali?⁣⁣⁣
Atau dimana masa kanak-kanak ⁣⁣
dapat ku beli, lagi?⁣⁣⁣
Jika seluruh keberanian sudah terkerahkan,⁣⁣⁣
Lalu kenapa rasa takut ⁣
menguasai kesendirian?⁣⁣⁣
Diantara tanya yang berserakan⁣⁣⁣
Jerit ledakan ⁣
terdengar lebih keras⁣⁣
daripada tangis bayi kelaparan⁣⁣⁣
Ku tabur bunga harap diatas gamang⁣⁣⁣
Yang semakin rimbun ⁣
memenuhi ingatan⁣⁣⁣
Aku melonglong ⁣
memanggil namamu, Ibu.⁣⁣⁣
Dibalik reruntuhan⁣⁣⁣
Aku menunggu kau datang⁣⁣
Jombang, ⁣
24 Februari 2019