Oleh : Eni Faridah


Kali ini aku yakin bahwa Pertiwi sedang meratapi tangisnya diluar sana. Selain karena alam yang mulai hilang sabar, mengamuk dan menelan kehidupan, Pertiwi tentu masih  menyimpan duka. Tidak banyak orang berani menjamah lubuk terdalamnya. Juga bahkan aku, selain dia sendiri yang berkeinginan untuk berbagi. Persoalan hidupnya cukup rumit, tanpa bisa dijelaskan secara rinci.⁣
Aku mengingatnya sepanjang waktu, kekasihku yang tangguh itu. Melalui siang dan malam, aku tak pernah ingin meninggalkannya sendirian.⁣
"Bulan, tugasmu hanya memelukku. Selebihnya aku hadapi nasib dengan tanganku sendiri", ucapnya lirih dari jauh. ⁣
Kali ini ia datang menemuiku yang sedang dalam lamunan tentangnya. Ditepuknya pundakku lalu ia bersandar. Nampaknya dia sudah mulai hilang keseimbangan. Aku mengelus kepalanya yang tak lagi rimbun pepohonan, gundul tak rata. 
Air matanya mengalir keruh karena limbah pabrik. Tisyu yang ku sodorkan pun tidak sekedar basah tapi berbau dan sangat menyengat pernapasan. Sampah-sampah plastik menyangkut di bulu matanya yang lentik. ⁣
Permunculannya tak lagi molek seperti saat dia perawan dulu. Kutemukan banyak luka pada permukaan kulitnya yang dulu indah. Punggungnya dipenuhi bangunan pencakar langit. Tangan yang dulu sering ku kecup kini juga nampak kotor dan menghitam akibat debu ditambah asap-asap kendaraan. ⁣
Seandainya kamu disini untuk sekedar duduk dan ngopi, akan ku ceritakan lebih banyak lagi, segala tentang Pertiwi, kekasihku yang malang itu. Sepanjang waktu aku menemaninya. Ku pastikan tak satupun tangan menyentuh dirinya, tapi tanganku hanya dua. Tidak mungkin aku merengek dan meminta tangan yang lain dengan menyuap Tuhan atau mencuri di toko mainan. ⁣
⁣⁣

⁣⁣Jombang, 
12 Januari 2019


*tantangan menulis rutin 30 hari di Instagram.

⁣⁣