Oleh : Edy Susanto


“Kamu bisa membuat semua orang mendapat masalah”, Bagas memperingatkan. 

Suasana kelas menjadi riuh setelah Pak Agung, dosen Manajemen Proyek, keluar dari kelas. Entah mau kemana atau untuk apa. Sementara itu, Bagas dan teman-teman lainnya masih mengerubuti Bayu. Mereka masing-masing bicara tanpa ada yang mengatur. Entah apa yang akhirnya terdegar. Tidak jelas. Yang jelas bisa dipastikan semua adalah ucapan-ucapan peringatan kepada Bayu setelah Bayu mengoreksi penjelasan dosen Manajemen Proyek tadi. 

“Penjelasan Pak Agung salah”, kata Bayu membela diri.

“Tapi dia dosen, ikuti sajalah”, kata yang lainnya.

“Tidak! salah ya tetap salah. Harus dikoreksi”, bela Bayu lagi.

“Sudah manut sajalah, kan juga tidak harus diikuti penjelasannya”, desak Bagas lagi.

“Kita semua bisa kena masalah nanti”, tambahnya.

Bayu memang terkenal sebagai mahasiswa yang kritis. Meskipun dia mahasiswa tehnik, tapi tidak jarang dia membaca buku filsafat dan ilmu umum. Hampir setiap hari dia selalu datang ke perpustakaan kampusnya yang berada di lantai 3 gedung kampus itu. Bisa dipastikan dia akan selalu meminjam satu buku tehnik tentang pemrograman komputer dan satu buku filsafat atau sejarah umum. Itulah kenapa Bayu sering membantah dosennya yang baginya tidak sesuai. 

Diantara teman sekelasnya memang dia terkenal sering berbeda pandangan dengan dosen-dosen dan juga mahasiswa lainnya. Baginya, dosen-dosen hanya mengajar seperti pelatih sirkus yang mengajari singa untuk duduk dikursi atau mengajari singa untuk melompati cincin api. Dan bagi dia juga mayoritas mahasiswa lainnya hanya manut dengan dosen untuk jaminan lulus sesuai jadwalnya.

Bayu selalu ingat sebuah kalimat, bahwa "Dunia menjadikan pendidikan kapitalistik, dan mencetak lulusan sesuai pesanan korporasi”. Itulah kenapa akhirnya Bayu lebih banyak belajar tentang ilmu sosial dan menjadikannya pembangkang pada kemakluman. 

“Kalau nanti Pak Agung marah dan kita tidak boleh ikut UAS bagaimana?”, Rinto menambahkan.

“Sudahlah”, pungkas Nurma. Satu-satunya mahasiswi cewek dikelas itu.

“Kalau tidak bisa UAS, nanti cuma aku yang tidak bisa. Kalian tenang saja”, kata Bayu kemudian.

“Aku tidak kuliah untuk menjadi tunduk. Bagiku, salah ya tetap salah. Semua harus sesuai keharusannya”, katanya kemudian seperti seorang penceramah. 

Kemudian Pak Agung, dosen Manajemen Proyek itu datang dan membuat kelas jadi hening. Tidak ada teman yang memiliki kesempatan untuk membantah ucapan Bayu. Tidak lama, dan kemudian dosen itu keluar lagi membawa tasnya.

Kelas riuh kembali. Tentu masih membicarakan Bayu yang membantah dosen “saklek”  itu. Tapi, ternyata Bayu sudah keluar kelas, mengekori dosennya itu. Bukan untuk mengejar dosen itu, tapi menghindari teman-temannya yang akan menyerangnya dengan argumen-argumen khas mahasiswa haus nilai, bukan ilmu.

Di gazebo kampus, Bayu masih saja dicecar teman-temannya karena peristiwa di kelas tadi. Sebenarnya itu bukan kali pertama Bayu membantah dosen. Sudah beberapa kali dan bahkan sering kali. 

“Bro, sudahlah. Biarkan saja apa kata dosen. Toh kalau salah tidak usah diikuti”, si Joko yang biasanya paling elegan memulai. 

Bayu masih diam saja sambil membuka notebook hitamnya. Kemudian terus mengetik dan mengetik.

“Hobimu emang bikin masalah bro. Semua dosen bagimu tidak benar”, imbuh Tino yang memang selalu paling pedas.

“Sudah Tin. Kalem! Jangan salah-salahan”, sambung Somad.

“Masalahnya, ini kan mendekati UAS bro. Jangan dulu lah bikin masalah dengan dosen. Ingat kan sebelumnya pernah dikeluarkan dari kelasnya Pak Agung?”, imbuhnya.

Bayu masih tetap diam. Dia ingat betul, sebelum UTS dirinya dikeluarkan dari kelas dosen yang sama.

“Dosennya saya atau kamu mas?”, tanya Pak Agung waktu itu.

“Iya, anda pak", jawab si Bayu

“Yasudah manut saja”

“Tapi itu salah pak”

“Anda keluar!”, tegas dosen itu lagi dibarengi Bayu yang mengambil tasnya dan keluar kelas. Tanpa satu patah kata-pun lagi.

Bayu ingat betul peristiwa itu, bahkan detail kata per kata dari percakapan pengusiran itu. Itulah pertama kali dia membantah dosen dan dikeluarkan.

Sebenarnya hanya penjelasan sepele saat itu yang coba Bayu bantah dan luruskan. Tapi sang dosen tetap tidak terima dan meminta Bayu untuk keluar kelasnya. Saat itu, Bayu pun keluar kelas tanpa berkata-kata juga tanpa membantah. Baginya, itu bukanlah sebuah ketakutan, tapi sebuah protes. Dia berpikir bahwa tidak masalah keluar kelas, selama dia masih bisa belajar. 

“Maaf bro. Bukannya mau caper atau gimana-gimana, tapi aku kuliah butuh ilmu bro. Aku tidak belajar sekedar untuk angka-angka”, Bayu mulai memberi pembelaan.

“Kalian tetaplah seperti itu. Kalian tetap boleh ikut UAS kok. Itu pasti”, imbuhnya.

“Jika ada yang tidak boleh UAS, itu hanya aku”, lanjut Bayu mendesak teman-temannya.

“Tidak apa-apa jika aku  harus mengulang kok. Bukankah sama dengan Ibu Hanum? Aku selalu harus mengulang mata kuliahnya? Bahkan harus berkali-kali", tegasnya.

Ibu Hanum adalah dosen yang sering dibantah oleh Bayu. Biarpun banyak teman-temannya bilang, dosen itu lumayan enak kalau bisa mendapat hatinya, tapi Bayu tetap saja membantahnya ketika salah. Salah adalah tetap salah kata-kata yang akan Bayu katakan jika temannya mempertanyakan tindakannya. 

Bukan sekali, dua kali atau tiga kali Bayu membantah dosennya, tapi sering kali pada setiap kelas selalu ada adu argument antaranya dengan dosen-dosennya. Jika beruntung, dia akan menjadi siswa yang disayangi dosennya karena kekritisannya. Tapi, jika tidak beruntung, nilai C, D bahkan E bisa saja mewarnai kertas KHS-nya. Tapi itu bukan persoalan karena dia sudah mendapatkannya sejak semester awal. 
.
Dalam perjalanan pulang, Bayu masih saja memikirkannya, di atas motor matiknya, menyapu jalanan kota menuju rumahnya yang lumayan jauh. Dia tidak berpikir tetang larangan UAS atau nilai E, tapi sesuatu yang lebih besar.

“Kenapa dosen harus dituruti jika itu salah? Kenapa aku yang membuat masalah jika aku membantahnya? Bukankah aku mereka ciptakan untuk menjadi cerdas juga pintar?”, kata-kata yang muncul dalam pikirannya, setidaknya selama perjalanan satu jam ini. Meskipun dia sadar tidak akan ada jawaban untuk itu, tapi pikirannya masih saja ke sana.

“Pendidikan macam apa ini?”, Bayu mulai bicara sendiri di atas motor warna putih itu.

“Mereka bukan anak SD lagi, bukaan!"

“Mereka harus berfikir”, gumamnya penuh kekecewaan. 
.
.
Tiga bulan berlalu dengan segala dinamikanya, Bayu masih sama dengan dirinya sebelumnya, selalu membantah para dosen di kelas saat mereka salah. Teman-temannya pun masih sama, Bagas, Rinto, Joko, Tino, Somad dan yang lainnya, mereka akan diam seribu bahasa ketika dosen-dosen itu menjelaskan. Menatap ke depan sambil pulpen siap di tangan kanannya. Entah apa yang mereka tulis, hanya mereka dan tuhannya yang tahu, kecuali jika harus dikumpulkan, maka dosen pun akan sama seperti tuhan, tahu apa yang ditulis teman-teman Bayu. Dan para dosen masih juga sama.

Mereka selamanya adalah dewa dan akan tetap menjadi dewa di kampusnya. Melakukan melakukan segala yang mereka yakini itu benar dan menuntut harus selalu dianggap benar. Kecuali yang memang mau menyadari ketika mereka salah, dan itu tidak banyak. 
.
.
Tiga bulan berarti UAS. Hari ini  Senin, Bayu dan teman-temannya sudah di depan kelas dengan seragam wajib untuk UAS ; hem putih polos dan celana kain. Celana yang identik dengan kaum borjuis masalalu. Mereka berdandan rapi seperti perlente, seperti pejabat yang siap ngembat duit rakyat. 

“Nanti duduk di belakang saja”, bisik seorang teman pada Bayu.

“Depan ku saja”, kata yang lainnya. 

Sudah jadi kebiasaan untuk mengatur posisi duduk saat UAS begini. Bukan untuk terlihat rapi, tapi memudahkan untuk saling contek-menyontek. Dan yang pasti tidak ada yang berharap duduk di kursi paling depan. Semua bergerombol di kursi tengah-kebelakang, begitu juga Bayu.

Tidak ada dosen yang peduli di mana mereka akan duduk, atau mereka duduk dekat siapa, siapa yang akan mencontek, siapa yang akan dicontek. “None of my business" pikir setiap dosen, atau dalam bahasa jawanya “Prek”. Selama mereka manut dan tidak membantah, that is more than enough dan nilai B bahkan A sangat sangat mungkin mereka dapatkan di lembar KHS mereka. 

"Mau ngapain mas?”, tegur pak dosen yang mengagetkan Bayu.

“Ikut ujian pak”, kata Bayu dengan hati yang mulai merasa tidak enak.

“Siapa yang mengijinkan ikut ujian?”, tanyanya.

“Anda keluar saja mas”, lanjut Pak Agung, dosen Manajemen Proyek itu.

“Tapi saya punya kartu ujian loh pak. Saya sudah bayar, dan saya mahasiswa di kampus ini”, bela Bayu kemudian.

“Tapi saya tidak mengijinkan kamu ujian”, balas pak dosen.

“Tapi pak…..”, jawab Bayu sebelum akhirnya dipotong oleh dosennya.

“Anda ujian pun tidak akan saya beri nilai. Mending anda keluar, ujian tahun depan saja”, kata manusia paling berkuasa di kelas itu.

Bayu mengambil tasnya, memasukkan pulpennya ke dalamnya, dan kemudian berdiri dan pergi menghilang dibalik pintu kelas itu. 

“Persetan dengan angka-angka mu. Aku bukan seperti mereka yang bisa anda cetak menjadi robot korporat”, kalimat panjang yang diucapkan dalam hatinya kemudian. 
Dan Bayu menuruni tangga lantai 3 gedung universitas itu tanpa penyesalan.