Muara kasihmu tak henti - hentinya mencari celah...
Hingga penuhi tiap rongga tubuh juga aliran darah...
Ibu, hanya karenamu aku ciptakan Tuhan dalam angan...
Hadir-Nya nyata dan bersemayam dalam wujudmu...

Kujejaki sunyi yang membaur malam kala itu...
Masih sangat ku hafal tiap nada dari kidungmu...
Teduh kurasa tiada terbilang...
Meski sunyi yang paling sepi tiba menghadang...

Di antara ratusan malam senantiasa kau bersimpuh...
Tanganmu menengadah penuh lantunan haru...
Jika bukan untukku lalu siapa, bu?
Basuh diri ini dengan restu terbaikmu...


Surabaya, 17 Mei 2018
-enifaridah-