“Dollar munggah maneh lek Jo”, kata Parmin sambil makan mendoan yang digoreng Paijo si tukang angkringan pojokan perempatan.

Dollar menurut berita memang hampir mencapai Rp. 15.000,- per US$ 1 nya. Bahkan beberapa media menuliskan Rupiah sudah sangat kritis dan memprediksi presiden bakal tumbang kalau menyentuh 15 ribu.

“Wes meh teko limolas ewu hlo lek Jo”, Parmin menekankan.

Tapi si Paijo tetap saja diam sambil mengangkat serok isi mendoan jyang digorengnya. Ditaruh mendoan ke wadah nampan di atas gerobak angkringannya sambil senyum lihat Parmin berlagak gelisah.

“Wes mangan mendoan piro Min?”, tanya Paijo tiba-tiba.

“Telu lek Jo, hla nopo?”, jawab Parmin kaget karena biasanya dihitung pas mau bayar.

“Nek 3 bayare piro Min?”, sambung Paijo.

“Biasane lakyo limangewu to lek Jo?” jawab Parmin yang memang biasa nangkring di angkirngannya si Paijo.

“Ndene yo ora maleh regone mendoan ku to Min?”, tanya Paijo.

“Hla iyo lek Jo, hla pie lek?”, Parmin ganti bertanya.

“Ngene hlo Min, masio dollar mundah opo mudun, regone mendoan leh mbog emplok kui tetep ae limangewu telu min. Lakyo ra melu mundak to Min?”, jelas Paijo diiringi pertanyaan.

Parmin manggut-manggut saja.

Melemahnya rupiah terhadap dollar selalu menjadi perhatian banyak orang, terutama mereka yang khawatir harga-harga naik. Orang-orang keumuman selalu menganggap melemahnya nilai tukar selalu berefek pada krisis keuangan Negara dan mengakibatkan harga-harga melambung tinggi.

Trauma 1998 sepertinya masih menghantui masyarakat kangan bawah Indonesia seperti Parmin juga. Ketika itu harga-harga melambung tinggi dan akhirnya kerusuhan masal terjadi. Saat itu, tahun 1997 rupiah melemah dari Rp 2.500,- menjadi Rp 2.650,- per USD-nya dan semakin melemah sampai pada angka Rp 16.800,- per USD di tahun 1998. Ini artinya pelemahan rupiah terhadap dollar mencapai 600%.

Paijo masih saja dengan solet di tangan kanan dan serok di tangan kirinya, menggoreng tempe yang ditepungi menjadi mendoan. Dan Parmin masih juga kepanasan mengunyah mendoan yang baru saja digoreng si Paijo. Sambil ngopi si Parmin masih ngeyel dengan ketakutannya.

“Tapi kan nek dollar munggah mengko rego munggah kabeh lek Jo”, tanya Parmin.

“Palingan leh mudun mung harga diri pejabat leh wes konangan korupsi ijeh wani nyaleg lek Jo”, sambung Parmin yang semakin menggebu dalam ketakutannya tentang harga-harga.

“Rasah mikir rego-rego mundak to Min, pemerintah yo wes mikirne kok”, sergah Paijo.

“Koe ngopi ngene iki mau ndak yo bojo mu wes mbog kei duit gawe blonjo?”, tanya lek Paijo.

“Yo uwes to lek, mben esuk bojo ku nang pasar tuku sayuran”, sahut Parmin.

“Mundhak pora jatah blojone bojomu?”, desak lek Paijo.

“Yo ora lah lek, wong tahu tempe sayur ae rongpuluh ewu oleh kok ndadak mundak jatahe blonjone”, sanggah Parmin.

“Hla ndene yo ra mbog tambahi blonjone bojo mu. Hla po ora sambat regane do mundak?”, tambah lek Paijo.

“Bojo ku ra kondo nek tempe mundak lek, leh mundak mung ndog pitik tok lek. Jarene nganti mantan menteri ae ra wani mangan ndog pitik, opo maneh aku lek. Ngene iki jarene mengko terjadi inflasi to lek Jo?", jawab Parmin akhirnya.

“Hus, inflasi opo? Indonesia kui inflasine ijeh di bawah 4% Min”, tegas lek Paijo.

Penguatan dollar sebenarnya tidak hanya terjadi terhadap rupiah saja. Dollar juga menguat terhadap nilai tukar dengan mata uang asing lainnya.  Ini adalah akibat dari kebijakan presiden amerika yang menaikkan bea pajak impor dan membatasi produk Negara asing masuk ke amerika. Mendoan yang digoreng lek Paijo juga tidak mudah bisa dieksport ke amerika karena kebijakan ini. Efeknya dollar kembali ke amerika dan Negara-negara yang juga bertransaksi memakai dollar kekurangan uang dollar. Untunya mendoan lek Paijo dibayar pakai rupiah, sehingga Parmin tidak bingung-bingung bayar pake dollar.

Seluruh dunia bahkan akhirya kena imbas dai kebijakan penarikan investasi ini oleh amerika. Beberapa negara terkena imbasnya pada angka inflasi yang terus melonjak dan efeknya harga-harga semakin mahal. Tapi sampai saat ini inflasi Indonesia masihbertahan pada angka 3,7%, jauh di bawah tahun 1998 yang menyentuh angka fantastis 78,2%, sehingga jikapun ada kenaikan harga-harga tidak akan sampai melonjak tajam seperti negara-negara yang inflasinya melonjak jauh, atau tidak seperti tahun 1998 silam.

“Wes talah Min, nek mbadog mu ijeh mendoan ku, kopi mu leh gawekne aku ae ora usah mikir dollar soyo larang, penting ora inflasi, iso mangan, ngono ae Min.” semprot lek Paijo sambil membalik mendoan yang hampir gosong ditinggal ditinggal baca tulisannya penulis.

“Oh ngono to lek Jo? Yowes lek, ra kate mikir maneh lek, yowes iki piro lek? Selak kerjo aku, luru dollar sing akih”, kelakar Parmin.

“Koyo biasane Min, limangewu mbi kopine rongewu mangatus, pitu setengah”, jawab lek Paijo 

“Yowes lek, utang sek yo lek?”, sambil Parmin nyetarter motornya.

“Wedus”, gumam lek Paijo. - (Edy)


** Pernah dimuat di Plukme dengan judul yang sama.