Setiap pagi, dengan keharusan aku berangkat ke kampus. Perjalanan pun tak cukup jauh dengan memakan waktu kurang lebih 30 menit. Syukur kalau jalanan lengang, jadi cukup sekitar 20 menit saja.

Ada 2 cara untuk untuk sampai di kampus, lewat jalan nasional atau jalan kecamatan. Bisa kulalui keduanya atas dasar kemauan. Jika mood bagus untuk berkendara di jalan nasional, artinya aku harus ekstra fokus. Bagaimanapun juga, menjaga konsentrasi saat berkendara akan selalu dibutuhkan, kemanapun dan dimanapun.

Pada suatu pagi, tepatnya di hari ulang tahun yang ke - 20, aku memilih untuk berangkat ke kampus melalui jalan kecamatan. Sebuah jalan yang menurutku menyenangkan karena ketika tengok kanan maupun kiri, mata sudah sangat dimanjakan oleh bentangan padi dengan warna hijaunya di sepanjang jalan. Ada yang masih mendongak dengan pongah, pertanda masih muda, juga ada yang merunduk hingga nampak bungkuk pertanda usia panennya.

Udara yang terhirup pun terasa sangat segar. Bahkan sisa - sisa embun pagi singgah di kaca helm hingga mengaburkan pandangan. Ada kekhawatiran tertentu yang terlintas. Apa yang terjadi pada sawah - sawah ini di 10 tahun mendatang? Akankah bangunan - bangunan pencakar langit tumbuh subur diatas tanah olahan? Tentu setiap hembusan nafas ini akan kehilangan kesegarannya.

Kekhawatiran selanjutnya adalah tentang penghidupan para petani. Jika semua sarjana mengabdikan diri untuk menjadi pekerja di dalam gedung - gedung raksasa, duniapun akan kehilangan pengolah padi dan sawah yang terampil. Bahkan yang lebih pedih adalah ketika mereka harus kehilangan mata pencaharian, satu - satunya gantungan hidup selain harapan.

Ah. Banyak hal yang berkecamuk di kepala sehingga membuyarkan konsentrasi berkendara. Tiba - tiba seorang gadis, seumuran diriku melintas dari sebuah sekolah dasar dengan cerobohnya. Ciiittttt. Seketika darahku mendidih, jemari bergetar mengendalikan rem depan dan belakang.

"Ah, sial!", gerutuku.

Jalanan memang sepi di pagi hari dan di sekolah itu nampaknya pembelajaran sudah dimulai dan tiba - tiba harus terhentikan dengan suara ban yang beradu aspal. Semua guru serta siswa berhamburan keluar kelas guna memastikan keadaanku dan gadis tersebut.

"Bagaimana keadaan mbak?", tanya satpam sekolah padaku.

"Baik pak, tadi memang melamun. Saya yang salah", jawabku.

"Saya yang ceroboh dan membahayakan orang lain. Mohon maaf", sambar gadis itu sembari tangannya mengapurancang dengan kepala tertunduk.

Sejujurnya aku terkejut. Permunculannya sangat sederhana akan tetapi dia nampak santun. Perkataannya teratur dan sikapnya cukup terdidik. Perwakannya juga tidak meyakinkan sebenarnya, dengan kulit kuning langsat dan tubuh yang jauh dari kata proporsional.

Terlepas dari semua itu, perhatianku tak luput saat menatapnya bahwa benar ada air mata yang disembunyikan. Raut muka nampak sembab dan tersisa tangis disudut matanya.

"Maaf ya mbak", aku coba memulai ditengah ketegangan.

"Sama - sama mbak", sahutnya dengan tetap menundukkan kepala dan berlalu begitu saja. Kami semua menebar pandang dan memperhatikan langkahnya hingga semakin jauh dari pandangan.

"Mari mbak istirahat dulu", kata pak satpam menawariku.

"Istirahat dulu mbak", bujuk salah seorang guru.

"Terimakasih pak, kebetulan saya terburu - buru", aku beralasan.

"Tapi pak, siapa gadis tadi?", sambungku segera.

"Oh gadis itu, kami juga penasaran mbak. Sejauh yang saya amati, dia selalu berdiri didepan gerbang untuk menunggu jam istirahat. Entah apa yang ada di kepalanya, dia terlihat senang dan terkadang murung saat melihat anak - anak bermain. Entahlah. Sudah sekitar 3 bulan dia melakukan ini", satpam itu menerangkan.

"Oh begitu ya pak. Tapi dia selalu datang sendiri?", tanyaku memastikan.

"Selalu sendiri mbak. Sempat juga kami menaruh curiga, tapi melihat gerak - geriknya, saya pun jadi berubah pikiran mbak", jelas seorang guru setengah baya dengan kumis bapangnya.

Mendengar sedikit keterangan dari mereka, aku hanya manggut - manggut dan melongo. Waktu terus berjalan dan kurasai sudah cukup terlambat untuk tiba di kampus.

Keesokan harinya, aku melalui jalan yang sama. Sengaja untuk berangkat lebih awal dengan niatan ingin berbicara pada gadis misterius tersebut. Benar saja, dia memang datang disaat yang tepat seperti keterangan bapak satpam, saat istirahat berlangsung. Ketika melihatku, tak gentar juga langkahnya dan melenggang tenang hingga sampai di gerbang. Sedangkan aku terduduk di sebuah bangku tunggu sebelah timur.

"Hey", sapaku. Tak kunjung ia membalas tapi malah menghampiriku. Sungguh terkejut bukan main.

"Hey", sapanya lebih ramah sekaligus mengulurkan tangan.

Akupun tergagap dan mendadak berkeringat. Aku jabat tangannya dengan tertegun dan tak segera terbangunkan. Hingga pada akhirnya kudapati dia mulai beranjak pergi dalam keadaan tersadarku.

"Hey", teriakku dan membuatnya terhenti sebentar dan menglangkah lagi.

"Apa yang kamu lakukan disini? Dan kenapa setiap hari kamu kemari?", sambarku tanpa permisi. Seolah sudah mengenalnya dan rasa penasaran ini sudah cukup tak terbendung.

"Sudah terbiasa mbak", jawabnya datar dan sungguh bukan harapanku.

"Tidak. Tidak mungkin seperti itu. Ada hal lain?", desakku mulai menggebu dengan tetap mengikuti langkahnya.

Ku tinggalkan motorku di sekolah dengan berjalan ngos-ngosan dibelakangnya. Tidakkah kau tau etika berbicara? Sial! Berhentilah! Gumamku. Atau berhentilah menjawab pertanyaanku, bahkan satu kata sekalipun. Jangan coba mengobrak - abrik rasa penasaranku.

Kudapati ia menyunggingkan senyum tapi tak berkata sepatah kata pun. Semakin geram aku dibuatnya. Gadis ini cukup menyebalkan, apa susahnya menjawab?

"Hey, kau dengar aku?", desakku sekali lagi.

"Tentu, boleh jadi kau kesal terhadap senyumku, tanpa sepatah kata untuk jawaban yang kau harapkan", tegasnya dalam kalimat yang tidak sederhana dan menohok hati.

Bagaimana dia tau aku mulai kesal dan cukup lelah membuntutinya?

"Tapi, ada senyum yang aku rindukan, dan senyum adikku tidak ada diantara mereka", tandasnya mantab. Langkahku pun terhenti.



Jombang, 8 Juli 2018
-enifaridah-