“Besok
ke Wonosobo pake mobil mu ya?”
“Ok
pak”
Itu
adalah percakapan kami lewat SMS saat teman ku mengajakku ke Wonosobo untuk
menghadiri pertemuan kelompok tani di salah satu desa di Wonosobo. Bisa
dipastikan Pak
Andi, teman ku yang mengirim pesan tadi tidak bisa mendapat rentalan mobil.
Sebelumnya tidak pernah mobilku dipakai dalam acara kantor, apalagi sampai ke
Wonosobo yang lumayan jauh dan medannya sedikit berat. Alasannya jelas, mobilku
adalah mobil tua, ya, mobil tahun 1984, cukup tua untuk dipakai anak muda
seperti aku.
Sabtu
jam 08.05
pagi, aku sudah memarkirkan mobil ku di parkir depan kantor organisasi kami.
Aku terbiasa datang lebih awal dari jam yang ditentukan. Seperti biasa, semua parkiran masih sepi, tidak satu
pun kendaraan teman-teman terparkir. Yang ada hanya motor 2 tak tua milik
seorang pastor yang setiap pagi menyempatkan mampir ke kantor kami setelah
mengantarkan anaknya sekolah. Kami terbiasa untuk berangkat kerja agak siang,
alasannya karena kita harus menyelesaikan dulu pekerjaan rumah. Dan karena aku
sendiri yang masih bujang, akhirnya aku yang selalu bisa berangkat paling pagi.
Aku
buka semua pintu sedan tua ku agar udara basah semalam bisa berganti sejuknya
udara pagi Salatiga. Kemudian,
aku berjalan ke belakang,
ke
arah parkir belakang dan dapur, meninggalkan mobilku sendirian. Selalu, Mas Panggih, bagian kerumahtanggaan
kami sudah duduk-duduk sambil ngopi bareng Pak Nuri si penjaga malam dan
petani-petani yang sering datang melihat sawahnya di pagi hari. Tidak
ketinggalan juga sang pastor yang sering aku panggil Romo Yusak sesekali ikut
ngobrol dan ngopi. Dan aku sendiri, sudah biasa tiba-tiba ikut nimbrung sambil
sebelumnya membawa secangkir teh tawar hangat dari dapur kantor.
“Mas
Edy, ngunjuk kopi?”,
sapaan mas Panggih hampir setiap pagi menawarkan kopi.
“Mboten mas, Wine”, tolakku selalu dengan candaan.
Biasanya
setelah jawabanku, dia akan terus menggoda aku, tapi tidak kali ini. Bukan
karena sedang sariawan atau aksi mogok bicara, tapi karena tiba-tiba Kang Pur, Koh Lison, dan Mas Kamto berurutan datang. Mereka
adalah teman-teman yang akan ikut ke Wonosobo kali ini. Oh iya, untuk yang
terakhir tadi, biarpun aku panggil mas, tapi sebenarnya beliau paling tua di
antara kami berlima. Panggilan
mas itu karena memang kita suka bercanda dan beliau selalu bilang dia masih
muda.
“Langsung mangkat ae yuh Ed?”, tiba-tiba kang Pur mengagetkan
aku yang sedang meniup teh yang masih panas.
“Hla
Pak
Andi?”
“Jaluk diampiri, mengko nunggu nang
gapuro komplek.”
“Ok,
yuh siap - siap,”
balas ku.
Kami
terbiasa bercakap-cakap dengan Bahasa
Jawa karena memang kami semuanya adalah orang Jawa asli. Tapi kadang memang
kami juga berbahasa Indonesia, apalagi saat acara resmi.
“Tutt
tutt”,
suara alarm central lock mobil ketika kupencet tombolnya. Baru sadar aku kalau
pintu ku semua sudah ku
buka.
Semua
tas sudah masuk ke bagasi mobil, dan jreeeengg mobil ku starter dan langsung nyala.
Kami langsung melaju ke arah Bandungan, ke rumah Pak Andi. Kali ini aku yang menjadi
sopir, dan sampai besok ketika pulang tentu akan tetap aku yang menyetir. Ya, diantara kami hanya aku saja
yang bisa mengendarai mobil, dan itulah sialnya. Aku harus menjadi sopir seharian. Tapi
ok
lah, mobil ku matic, jadi perjalanan 3 jam lebih ke Wonosobo tidak akan begitu membuat
capek.
Mobil
terus melaju meninggalkan Salatiga menuju ke Ambarawa, melewati Palagan
Ambarawa yang terkenal dalam perang mempertahankan kemerdekaan, dengan Jendral
Sudirman-nya. Mobil terus melaju, meninggalkan Ambarawa, melalui tanjakan demi
tanjakan di jalan perbukitan menuju Bandungan. Kiri-kanan hanya pemandangan
hijau yang terlihat, meski beberapa juga terhalang bangunan rumah dan ruko.
Sayangnya lagi, pemandangan indah yang tak bisa aku nikmati, aku harus fokus pada jalanan dan lalu-lintas didepan ku. Bandungan
sendiri memang berada di dataran tinggi di perbukitan di bawah kaki Gunung Ungaran, sehingga
pemandangannya memang indah dipadu dengan udara yang sangat-sangat sejuk. Tidak
heran menjamur bisnis hotel dan hiburan disini.
“Maju”, kata Kang Pur tiba-tiba.
“Kae Mas Andi, kiri jalan”, sambil nunjuk
ke depan Koh
Lison menambahkan.
Aku
memberi tanda sein kiri kemudian menepi menghampiri Pak Andi yang menunggu di depan gapura. Pak Andi masuk dan duduk
di kursi belakang, dan
kemudian wuuuuzzzzzz mobil melaju lagi langsung ke Wonosobo mealui
Kaloran, Temanggung.
Di Kaloran kita sempatkan untuk berhenti di warung padang untuk sarapan.
Kemudian langsung mobil kembali melaju mendaki lereng Gunung Sumbing dengan pemandangan Gunung Sindoro di depan yang
lagi-lagi tidak bisa kunikmati karena tuntutan konsentrasi.
“Plano
dibawa?”, tanya
Pak
Andi disela - sela
pecakapan.
Dan
ternyata semua lupa menyiapkan plano untuk diskusi nanti. Untung saja beberapa
hari sebelumnya aku sempat beli plano karena harus berdiskusi dengan
organisasi pemuda, dan masih menyisahkan
barang dua lembar di tas.
“Kayake di tas ku ada pak”, sambung
ku.
“Ok, sip Ed.”
“Nanti langsung ke tempat Pak Lurah atau pertemuannya di rumahnya
Syarif?”, tanya
Kang
Pur.
Syarif
sendiri adalah ketua kelompok tani lokal yang berafiliasi dengan organisasi
kami sebagai induknya.
“Hla kemarin komunikasinya gimana to
mas?”, Mas
Kamto menambahkan.
“Kemarin bilangnya pertemuannya di
rumahnya Syarif, Pak. Tapi
nanti tidak tau Pak
Lurah
datang atau tidak".
“Berarti langsung ke rumahnya Syarif
saja”, Koh
Lison menambahkan.
Mobil
terus menderu, melaju
mendaki lereng
Sumbing. Sampai di batas antara Temanggung dan Wonosobo, hujan turun dengan lebatnya.
Memang sudah jamak kalau Wonosobo hujan deras. Mungkin semua orang yang suka
mendaki dan sering ke Wonosobo tahu tentang kelaziman hujan di Wonosobo ini.
Sialnya AC mobil ku tidak cukup dingin untuk mengusir embun di kaca mobil ku. ‘Perjalanan
harus lebih hati - hati,
gas harus dikurangi,’
batin ku.
Hujan
semakin lebat, kabut semakin tebal, dan pandangan semakin tidak jelas. Untungnya tidak lama lagi kami
akan sampai di rumah Pak
Syarif.
‘Haaaaaaaaaaahhhh….
Sial’, pikirku. Jalanan desa menuju rumah Pak Syarif ternyata penuh dengan
polisi tidur yang tinggi -
tinggi
dan beberapa bagian lain adalah jalanan rusak yang bergelombang dan penuh
batuan. Berkali - kali
harus jalan sangat - sangat
dan sangat pelan agar mobil tidak bergesekan dengan polisi tidur dan batuan
jalan rusak. Biarpun sudah sangat pelan nyatanya tetap saja, berkali - kali suara srooook
terdengar, dan gesekan terasa di lantai mobil.
Rumah
Pak
Syarif berada di tengah perkampungan dengan jalanan sempit yang terjal. Kami
memarkir mobil di halaman depan yang lumayan luas, tapi kosong seperti umumnya
rumah di desan - desa.
Tidak ada taman, dan kolam renang yang ada hanya tempat mandi dan mencuci umum
di depan rumah dengan air jernih yang dingin khas air pegunungan. Juga tidak
ada bungalow, yang ada hanya teras di atas fondasi utama yang kebetulan mengarah ke barat dengan pemandangan
puncak Gunung
Sindoro yang indah.
‘Surga dunia,’, batinku.
Beginilah
keindahan sesungguhnya, ketenangan berbalut keramahan khas orang-orang
pedesaan. Bercampur dengan kesejukan pegunungan dan hijaunya alam di bawah kaki
Sang
Sindoro.
“Betah aku kang urip nang kene”,
tegur ku pada Kang
Pur.
“Golek bojo kene ae”, jawabnya dengan
candaan.
“Bakul kopi?”
“Anak Pak Lurah nuh? Hahahahaha".
Baru
jam 1 lebih 5 menit, tapi udara dingin sudah sangat menusuk tulang. Hujan
menambah dingin udara Wonosobo yang memang sudah dingin. Dalam cuaca seperti
ini mungkin di Dieng, objek wisata terkenal di Wonosobo akan jauh - jauh sangat lebih dingin.
Tapi beberapa
warga masih berlalu - lalang
dibawah gerimis yang dingin ini
‘Ah, orang pegunungan,
they are stronger,’
pikir
ku.
Seperti
lazinya perjamuan di pegunungan, teh panas dikeluarkan bersama snack dan
gorengan yang baru diangkat. Sambil menunggu peserta pertemuan kami menikmati
teh yang sebentar lagi akan dingin itu. Sambil memakan mendoan, tempe yang
diberi tepung gandum dan digoreng, kami bercengkerama dengan Pak Syarif yang baru saja selesai
mengajar ngaji.
“Masih konflik dengan PT. T, pak?”, Kang Pur memulai.
“Sebenarnya tidak. Cuma kan sekarang yang digarap
anggota kelompok tani itu agak jauh semuanya dari desa. Jadi beberapa tidak bisa digarap Pur”, jawab Pak Syarif.
“Pak lurah juga gerak kok, kan mantan
karyawan PT. T juga”.
“Yang dekat desa pak? Yang atas itu
hlo”.
“Masih digarap PT. T, tehnya masih
semua milik PT. T”.
PT.
T adalah perusahaan air minum yang berdiri di Wonosobo. Perusahaan ini
menguasai lahan di sekitar yang diklaim dan dikelola oleh perhutani. Lahan yang dikuasai ditanami pohon teh,
karena memang mereka memproduksi minuman teh kemasan. Sejak beberapa tahun
belakangan,
masyarakat sudah memperkirakan bahwa kontrak Perhutani sudah selesai. Sehingga, masyarakat mulai
gencar melakukan reclaiming lahan -lahan yang sebelumnya dikuasai Perhutani dan
dikelola PT. T.
Memang masyarakat tidak bisa mengetahui secara jelas kapan berakhirnya. Ada yang mengatakan seharusnya sudah selesai beberapa puluh tahun lalu. Ada juga yag bilang baru saja selesai. Bahkan ada yang bilang kontraknya belum selesai atau sudah diperpanjang. Yang demikian ini biasanya orang - orang yang bekerja untuk PT. T atau yang mendapat keuntungan dari PT. T.
Memang masyarakat tidak bisa mengetahui secara jelas kapan berakhirnya. Ada yang mengatakan seharusnya sudah selesai beberapa puluh tahun lalu. Ada juga yag bilang baru saja selesai. Bahkan ada yang bilang kontraknya belum selesai atau sudah diperpanjang. Yang demikian ini biasanya orang - orang yang bekerja untuk PT. T atau yang mendapat keuntungan dari PT. T.
Tak
terasa teh sudah dingin saja, baru juga sebentar ngobrolnya, dan mendoan juga
sudah layu. Sudah biasa teh panas tidak bertahan lama di sini, juga gorengan
pun sama karena suhunya yang sangat dingin.
“Kan aksesnya ditutup lagi setelah Pilbup itu Mas Andi”, imbunya.
Pak
Syarif adalah ketua kelompok petani Damarkasihan. Berada di desa Damarkasihan,
Kertek, Wonosobo. Kelompok tani ini juga berafiliasi dengan organisasi kami
sebagai induk organisasinya. Sejak beberapa tahun sebelumnya memang gencar
dilakukan pendampingan advokasi reclaiming
lahan Perhutani yang dikelola PT. T di sini. Sebenarnya pendampingan di sini
sudah memberikan hasil. Masyarakat sudah bisa mengelola lahan yang sebelumnya
dikuasai PT. T dan beberapa yang hasilnya harus dikerjasamakan dan memang sudah
dikerjasamakan (I'm a bit
confused). Tapi setelah pergantian bupati, semuanya berubah. PT. T seperti
mendapat posisi yang bagus lagi dan kembali menguasai beberapa lahan yang telah
dikelola masyarakat.
Silih
berganti peserta pertemuan yang juga anggota kelompok tani berdatangan. Ruangan
yang sebenarnya untuk mengaji anak-anak
itu kini sudah penuh dengan bapak-bapak
anggota kelompok tani. Keumuman disini memang masih patron. Anggota kelompok tani
selamanya laki-laki, dan ibu
- ibunya meskipun juga anggota, tapi tidak ikut dalam pertemuan
seperti ini. Tidak ketinggalan juga Pak
Lurah
yang juga mendukung kegiatan kelompok tani ini sudah hadir. Beliau memberi
sambutan.
Acara
dimulai…………. - (Edy)


0 Komentar