Dengan latar hujan fajar di Purbalingga
Kuceritakan kepadamu
Tentang bangunan cinta yg lama tertinggal
Ia kumuh, berdebu, berlumut dan kusam
Di tiap pojokannya diselimuti lamat dan luruhan kenangan yg lampau
Ruangnya pengap oleh aroma ratapan kekasih yg tertinggal
Hanya,
Ia kokoh tanpa cela
Bangunan itu masih utuh berdiri seperti sedia kala
Tak ada guguran tembok yg rapuh
Ia masih agung seperti pemujaan atas cintaku padamu
Karena
Di kala aku meninggalkanmu
Bukan berarti aku berhenti mencintaimu
Ia hanyalah satu cara untuk berhenti saling menyakiti
Dengan harapan-harapan yg tak mungkin bisa diwujudkan oleh kemiskinan
Kemiskinan menyeret ribuan bahkan jutaan manusia yg saling mencinta
Ia memaksa mereka memilih antara hidup berdua lalu beranak Pinak dalam kekalutan hidup
Atau memilih berpisah agar satu diantara mereka bergandengan dengan kesejahteraan meski tanpa cinta
Itupun jika ia mujur.
Kemiskinan nyatanya lebih kuasa dari tuhan.
*Purbalingga, 26-2-2026*

0 Komentar