Hari ini saya kebetulan jalan-jalan di sepanjang Suruh sampai Jatinom, Klaten. Kebetulan bertepatan dengan momen hari Kartini yg diperingati hari ini. Sepanjang jalan itu ada banyak sekali sekolah dari SD sampai SMA. Hampir semuanya gegap gempita memperingati hari Kartini. Anak-anak perempuan berkebaya layaknya anak-anak jawa atasan masa dulu, yg mungkin dianggap menggambarkan Kartini, meskipun mereka tidak bergelung seperti Kartini dalam potret-potret, tentu karena mereka sudah diminta berjilbab sejak SD, biarpun SD negeri, meskipun masih beberapa juga yg membiarkan rambutnya tergerai. Beberapa siswa laki-laki juga banyak mengenakan beskap komplit beserta blangkon dan bawahan jarit, sisanya berbatik rapi.
Sepanjang jalan itu, banyak sekali kujumpai juga adik-adik yg dibonceng atau berboncengan motor dengan pakaian sejenis dan wajah menor penuh make up. Banyak yg terlihat dari wajahnya mungkin masih SD atau SMP. Mungkin inilah peringatan hari besar nasional yg diperingati paling mewah, bahkan lebih dari upacara 17 Agustusan.
Sebuah penghargaan yg sangat indah untuk seorang guru bangsa, Kartini, tentunya. Namun, dibaliknya ada sebuah ironi. Kartini seorang cerdik pandai yg membuka pencerahan bagi kaum perempuan khususnya, juga bagi seluruh bangsa negeri ini umumnya. Berbanding terbalik dengan segala sesuatu yg viral akhir-akhir ini dimana anak-anak sekolah bahkan tidak bisa membaca meskipun sudah di bangku sekolah menengah. Sebagaimana juga banyak konten-konten yg menampilkan kebodohan-kebodohan anak-anak sekolah yg bahkan tidak bisa berhitung tujuh kali tiga. Lalu, apa iya Kartini lebih suka macak daripada belajar menjadi perempuan cerdas yg mencerahkan? Sayangnya Kartini sekarang hanya dimaknai pawai-pawai dengan siswa siswi berlagak anak priyayi dengan pakaian mentereng dan dandanan menor. Ia tidak dimaknai sebagai sosok penyulut obor emansipasi dan tokoh intelektual bangsa. Ah, Kartini, nasibmu.
Sekolah terlalu permisif.
Masih di peringatan hari kartini hari ini saya sendiri jadi berfikir, apa iya siswa-siswi akan terus dibawa pada seremonial-seremonial yg mewah dan konten-konten media sosial yg sekedar hura-hura?
Sekolah mungkin seharusnya mulai melihat substansi dari pendidikan itu. Per hari ini saya rasa sekolah terlalu permisif pada hal-hal yg tidak masuk pada substansi pendidikan. Peringatan-peringatan hari besar diperingati dengan kemewahan yg tentu biayanya tidak cuku lima ribu sepuluh ribu. Dandanan semacam itu tentu menghabiskan setidaknya lima puluh ribu atau lebih yg harus dikeruk dari kantong wali murid. Padahal, pada banyak kasus banyak sekali sekolah yg dengan dalih melindungi ekonomi keluarga siswanya menolak sosialisasi dan penjualan buku-buku yg sesuai substansi pendidikan, atau menolak kegiatan-kegiatan pengembangan kreatifitas anak didik oleh sanggar-sanggar di luar sekolah. Padahal, keduanya jelas lebih berimplikasi pada kecerdasan dan kreatifitas anak, dan biasanya juga tidak terlalu harus mengeruk uang banyak dari kantong wali murid.
Namun, bagaimanapun juga tidak bisa kemudian menyalahkan guru-gurunya. Karena tentu, mereka cukup disibukkan dengan administrasi-administrasi katanya, minimal administrasi mengejar p3k atau CPNS. Atau beberapa juga sibuk ngonten yg menghibur netizen-netizen tanah air yg begitu banyaknya. Ada yg joget-joget, ngonten sedekah nilai padahal harusnya memahami kalau siswa wajib naik berarti guru wajib mendidik lebih keras dan lebih bermutu, bukan sedekah nilai. Atau banyak juga yg konten ngeluh siswanya bandel, padahal mereka gurunya yg harusnya mengajar. Tapi, bagaimanapun juga, apresiasi yg besar untuk seluruh guru di hari Kartini ini, karena mereka sudah merasa melakukan segalanya yg terbaik bagi anak didiknya.
**Nb: Maaf kalau kalimatnya sungsang, soalnya cukup lama tidak nulis panjang, dan maaf kalau tulisannya jelek, soalnya pas sekolah sering dikira cekeran ayam. 🙏🙏

0 Komentar