Gambar terkait
Ilustrasi sengketa lahan
Oleh : Edy Susanto

Penduduk berduyun-duyun pulang ke rumah masing-masing. Tak ada keceriaan. Ketakutan kehilangan rumah, hewan ternak, tegalan, sawah bahkan lingkungan seolah menjalar pikiran penduduk desa, termasuk Wajiman muda dan istrinya. 


Tak ada perubahan dari hari sebelumnya. Wajiman muda tetap mencangkul sawah, pulang membawa rumput untuk sapi-sapinya. Begitu juga Narno, Tarto, Lasiman, Parmin Ompong. Mereka masih bekerja di tegalan masing-masing pun Penduduk lain. 

Hari berikutnya masih sama. Belum ada tanda-tanda mereka akan terusir. Hari ke tiga, ke empat ke lima, ke enam pun demikian. Penduduk masih ke sawah dan tegalan mereka masing-masing. Mencangkul, menanam, memanen, mencari rumput, menggembala dan lainnya semua masih berjalan normal. Tetapi, ketakutan menjadi teman baru penduduk ketika beraktivitas. 

Hari ke tujuh. Tentara datang entah dari mana. Truk-truk tentara berlalu lalang di seantero desa. Tampak beberapa orang menancapkan kayu-kayu. Patok-patok untuk tanda. 

“Kenapa ditancapi barang seperti itu, Pak?” tanya seorang warga yang mendapati tegalannya ditanami patok-patok kayu oleh orang asing.

“Ini tanah saya. Saya tidak minta tanah ini dipatok,” lanjut warga tersebut. 

“Saya hanya menjalankan perintah, Pak! Tanya saja langsung pada panitia pembebasan lahan. Saya hanya menjalankan tugas,” jawab si pematok. 

“Mana orangnya?” Pemilik lahan geram. Matanya merah menyala seraya  mengayunkan sabitnya. 

“Nganu, Pak. Di Balai desa, Pak,” jawab si pematok gagap karena takut. 

Pemilik tegalan itupun pergi.


Di Balai desa rupaya banyak penduduk desa dengan emosi sedang berkumpul. Andai bisa melihat mungkin ada tanduk merah di atas kepala mereka. Pun dengan Wajiman muda. Usianya saat itu masih 25 tahun dengan postur tubuh tegap dan tinggi besar. Masa di mana emosi darah muda  mudah tersulut.

“Kami menolak pembangunan waduk! Jangan patok tanah kami! Kami tidak butuh uang. Kami butuh tetap tinggal di sini. Ini tanah kami.” Begitulah suara-suara yang menggema di balai desa siang itu.

Tentara yang sejak pagi sudah ada di Balai desa mulai siaga. Tatapannya tajam seperti hewan buas yang siap menerkam mangsa.

“Pembangunan ini untuk kesejahteraan saudara-saudara.” Seorang tentara bicara di belakang toa. Suaranya sangat keras. Tanda di lengan terlihat berbeda dengan yang lain, mungkin  dia komandannya. 

“Waduk ini nantinya akan membawa kesejahteraan bagi negara Indonesia. Akan mengairi enam ribu hektar sawah dan menjadi pembangkit tenaga listrik,” teriaknya lantang.  

Penduduk yang emosi tanahnya dipatok tanpa ijin tak menghiraukan. Mereka tetap berteriak menolak rencana pembangunan bendungan terbesar se-Asean itu. 

“Sawah kami tidak pernah kekurangan air.  Sungai-sungai besar masih mengalir terus,” teriak Wajiman geram. 

“Kami tidak butuh waduk,” lanjut Wajiman. 

Tentara yang memegang toa geram. Matanya melotot tajam mendengar teriakan Wajiman. 

“Sampean PKI? Berani menolak program pembangunan nasional? Haaah!” teriaknya pada Wajiman sambil melotot seraya mengepal tangan.

Bhuuuk!

Suara tendangan sepatu baja melayang mengenai onggokan daging. Wajiman muda tersungkur. Tendangan serdadu tentara tepat menghujam paha belakangnya. 

Penduduk yang berteriak seketika diam. Ada yang histeris melihat Wajiman muda  tersungkur. Ada pula yang takut kena tendangan. Pun, yang menolong kemudian kembali lagi berteriak menolak pembangunan waduk. 

“Yang menolak waduk ini berarti menolak pembangunan. Artinya  sama dengan menolak Pancasila. Menolak Pancasila dianggap PKI!” Tentara dengan toa berteriak lantang penuh dengan amarah membakar dada.

Semua diam. Dianggap PKI adalah hukuman paling berat masa itu. Suasana sunyi mencekam.

“Siapa lagi yang akan di-PKI-kan?” 

Penduduk diam, menahan amarah dalam dada. Namun amarah mereka padam mendengar kata PKI. Di masa itu, dicap PKI sama saja dibunuh, segala haknya dirampas. Dianggap PKI adalah momok yang menakutkan bagi masyarakat seperti mereka.




Wajiman masih tersungkur. Dibantu Narno dan beberapa orang lainnya ia mencoba berdiri. Tendangan khas seorang tentara dirasa jauh lebih keras oleh Wajiman yang hanya seorang petani. 

“Saya bukan PKI. Saya hanya tidak mau tanah saya diambil paksa,” balas Wajiman sengit.

“Ya, kami bukan PKI! Tanah itu tanah kami, semua harus sejin kami,” tukas Narno mengambil alih suara. 

Tak ada yang menghiraukan. 

Namun di pojokan lain halaman Balai desa, di samping truk tentara terdengar seseorang mengaduh. Tarto kedapatan tersungkur. Wajiman dan Narno kaget mendapati kawannya tergeletak tanpa daya. Tarto baru saja dilempar ke dinding bak truk oleh tentara. 

“Kenapa Kang Tarto dilempar ke truk?” tanya Wajiman.
“Kenapa?”

“Apa salahnya?” desak Wajiman. 

Tidak ada yang menjawab. Semua melihat pada Tarto yang mencoba berdiri dibantu penduduk yang lain. Orang-orang berkerumun mendekati truk, mencoba melihat apa yang terjadi. 

Nggggiiiiiiiiiiiingggggg…. Terdengar suara Toa dipencet. 

“Perhatian,” teriak orang di depan Balai desa. 

Kerumunan mendadak buyar, para penduduk putar balik memunggungi Tarto yang terhuyung-huyung. Semua mata tertuju pada orang di depan bale. 

“Panitia pembebasan tanah sudah dibuat dan diresmikan,” ucap pria itu. “Di masing-masing desa di tujuh kecamatan sudah ada. Jangan ada yang ngeyel dan mengganggu kerja pembebasan tanah jika tidak ingin dianggap melawan Pancasila dan dicap PKI,” kata pria berseragam itu yang makin jumawa.

“Tanah yang diambil akan diganti rugi. Sisanya nanti akan ditransmigrasikan ke Sumatra dan Kalimantan!” lanjutnya, “sekali lagi  yang menolak dan menghambat akan dianggap sisa-sisa PKI! Beruntung yang tiga tadi KTP-nya tidak dicap PKI,” pungkasnya lagi.

Kerumunan penduduk kemudian bubar, semua kembali ke rumah masing-masing. Wajiman, Narno, Tarto pulang dengan menahan amarah seraya mengingat-ingat kejadian barusan yang tidak mungkin dilupakan seumur hidup. 

Semua orang takut jika sampai dicap Eks-Tapol di KTP-nya. Tetapi, di sisi lain mereka juga tidak ingin tanah, sawah, rumah dan kehidupan diambil untuk dijadikan waduk. Dalam benak mereka  bertanya-tanya, ‘Ke mana harus pergi jika tanahnya dijadikan waduk’ pikiran itu seakan-akan menjadi momok yang menakut-nakuti penduduk desa.

Ada yang pasrah melepaskannya dan bersiap-siap sambil menunggu ganti rugi. Sebagian lagi bersiap-siap untuk ditransmigrasikan. Sisanya memilih berontak menentang pemerintah yang akan merampas tanah dan kehidupannya. Wajiman, Narno, Tarto juga sama. Bagi mereka persetan di-PKI-kan. 

Sejak saat itu bagi mereka pemerintah bukan lagi pengayom rakyatnya. Tentara tak ubahnya virus-virus penyakit yang setiap saat mengancam kesehatan masyarakat bahkan nyawa. Pemberontakan bagi mereka adalah satu-satunya yang harus dillakukan.

Bersama LSM-LSM dan aktivis-aktivis mahasiswa perlawanan terus digerakkan. Demonstrasi, teater satir, sidang-sidang, membubarkan upaya pematokan lahan menjadi hal baru yang harus dilakukan terus menerus. Dicari tentara bersembunyi dipukuli seolah makanan yang hampir setiap hari harus dinikmati segetir apapun itu. 


*********


Wajiman tua termangu membayangkan kejadian itu. Usianya kini lebih setengah abad dan telah bercucu. Narno, Tarto, Lasiman dan lainnya juga sama. Tenaganya tak lagi kuat. Badan mereka telah ketipur, lemah dan tak tegap lagi. Lebih dari 30 tahun sudah mereka terusir dari rumahnya. Rupiah yang diberikan di dalam amplop kuning bertuliskan “Jer Basuki Mowo Beo”,nyatanya tidak sesuai intruksi Menteri dalam negeri waktu itu.

“Mbah Man, sudah sore.” Tarto membuyarkan lamunan.“Pulang saja!” lanjutnya. 

Wajiman tua tersadar dari lamunannya. 

“Pulang, Mbah Tarto?” tanya Wajiman kemudian. 

Seketika Narno menjalankan perahu menjauhi bekas desanya 30 tahun silam. 

“30 tahun kita berjuang,” gumam Wajiman,

“Anakku sudah dewasa, dan belum ada keadilan.”

“Iya, Mbah Jan, tiga kali aku pindah rumah. Selalu memasang bendera merah putih di halaman biar pun bertiang carang, tapi kenapa selalu dimusuhi negara? Diadu dengan tentara,” timpal Tarto. 

Lasiman dan Narno terdiam sesaat mengingat-ingat kembali perjuangan mereka kala itu. 

Mentari terbenam ketika mereka sampai di bibir waduk. Perahu ditambatkan. Langkah tua mereka kini menjauhi tempat yang menjadi saksi bisu kisah silam mereka.

"Esok demonstrasi di gedung Gubernuran harus berjalan lancar. Keadilan harus terus diperjuangkan," guman Wajiman melangkah menuju rumah.

Selesai.



** Pernah dimuat dalam Antologi cerpen 'Birai Kehidupan' terbitan YamaRose Publisher