Gambar terkait
Ilustrasi Land grabbing oleh pemerintah Orde Baru.
Oleh : Edy Susanto

Matahari begitu terik memanggang kulit. Wajiman dan teman-temannya, masih berdiskusi di dalam karamba di atas waduk Kedungombo. Setelah pintu waduk ditutup air mulai menggenangi, karamba-karamba menjamur di seluruh permukaan waduk. ketika air mulai menggenangi desa, penduduk terusir dan bermukim di pinggiran waduk.


Ketika senja menjelang, satu persatu warga keluar kemudian naik ke perahu yang terparkir di sekitaran karamba. Satu persatu perahu pergi membawa penumpangnya. Terakhir, Wajiman dan pemilik karamba, Narno.

“Masih sore. Keliling dulu, yuk, Mbah Narno?” ajak Wajiman. 

Di perahu sudah ada Tarto dan Lasiman. Sama dengan Wajiman, mereka terusir dari rumah ketika pemerintah membangun waduk Kedungombo 30 tahun silam.

Perahu melaju mengitari Kedungombo. Matahari  kian memerah terpantul di permukaan air. Begitu tenang menghayutkan angan serasa dunia damai tanpa beban. Pemandangan indah di waktu senja. 

“Di situ dulu balai desanya, ya?" Wajiman menunjuk permukaan air memulai percakapan.Tepat di bawah situ dulu aku dihajar tentara,” lanjutnya. 

“Iya, Mbah Wajiman. Waktu itu juga saya dilempar ke truk tentara, dikira PKI,” sahut Tarto.

“Itu pas menolak patok-patok, kan? Untung saya dilindungi mbah Manten kalau tidak, sudah dibawa tentara,” sahut Narno.

Dari perahu, mereka yakin di sanalah dulu tempat tinggalnya. Di bawah sana rumah, keluarga, sawah, pekerjaan, dan kehidupan makmur terasakan sebelumnya. Kini hanya tingggal kenangan saja. Miris.

“Nah, di sana itu rumahnya si A, kalau sebelahnya rumah mbah Anu, sampingnya lagi agak jauh kira-kira sela tiga rumah tempat tinggalnya nganu ....” 

kalimatnya belum selesai ingatan mereka seakan kembali dibuatnya berputar, untuk mengingat-ingat lagi tempat tinggal  30 tahun silam. 

Tergambar  jelas dalam ingatan ketika tahun pertama tentara menginjakkan kaki di desa. Antara tahun 1982 atau 1985  sejak saat itu kehidupan mereka berubah drastis.


********


Saat itu pagi hari. Wajiman muda berangkat ke sawah sambil membawa bekal buatan istrinya, Wasiyem. Pun dengan Narno, Tarto, Lasiman dan penduduk lainnya. Hampir semua penduduk di desa bermata pencarian sebagai petani, dengan aliran empat sungai besar di sekitaran pemukiman sebagai saranan irigasi di landang-ladang mereka. Penduduknya hidup sejahtera tanpa kekurangan air. Air dari sungai Serang, sungai Nglanji, Sungai tapen dan sungai Uter cukup memasok kebutuhan air pertanian dan konsumsi penduduk desa. Ditambah lagi sungai-sungai kecil lainnya



Wajiman muda sedang mencangkul, meratakan tepian pematang sawah ketika kentongan ditabuh, tanda ada sesuatu yang penting. Ia bergegas menuju asal suara kentongan, meninggalkan peralatan dan bekalnya. Seperti Wajiman, penduduk desa pun berbondong-bondong menuju asal suara yaitu Balai desa.

Di Balai desa ternyata sudah banyak orang berkumpul. Laki-perempuan, tua-muda, bahkan anak-anak juga ada,  mengitari halaman balai desa yang terbuat dari papan jati tua. Bangunan rumah joglo dengan pendopo itu tak terlihat, kecuali gentingnya, tertutup oleh penduduk yang berkumpul. Dalam kerumunan istri Wasiyem turut hadir, tapi wanita berpakaian sederhana itu celigukan mencari suaminya. Entah di mana Wajiman muda saat itu.

“Ada pengumuman apa, Mbakyu?” tanya Wajiman pada salah satu tetangga. 

“Entah. Tidak tahu,” jawab wanita yang ditanyai Wajiman, “tapi itu ada pak Camat, pak Lurah dan juga tentara banyak, Kang,” tambahnya. 

Mata Wajiman tak lepas memandang kerumunan yang ada. Dalam hatinya bertanya-tanya. Ada apa gerangan. Wajiman muda semakin penasaran. 

Tanpa panggung, tanpa pengeras suara. Pak Lurah muncul dari dalam balai diiringi beberapa orang berdandan necis dan beberapa berseragam tentara. 

“Pengumuman,” kata pak Lurah yang sudah terlihat tua dan kurus.



Seluruh warga seketika diam. Suasana mendadak jadi sunyi. Wajah-wajah penduduk tampak gusar. Ada apa gerangan.

Pak Lurah melanjutkan pengumuman. Ternyata, orang-orang necis itu pejabat parlente  bersama pengembang. Berdalih demi kesejahteraan dan pembangunan mereka menyampaikan maksud dan tujuannya kemari. 

“Pemerintah akan membangun bendungan besar untuk waduk di sini. Fungsinya untuk pengairan juga pembangkit listrik tenaga air.”

Mendengar pengumuman itu warga bersorak kegirangan. Teriakan menggema di segala penjuru. 

Selama ini memang listrik belum masuk ke desa mereka. Malam diterangi lampu minyak bersama asap hitam yang mengepul dari cerobong lampu teplon. Dian sentir sebutannya. Sebentar lagi mereka akan mengucapkan “Sayonara Dian sentir”, begitu juga Wajiman muda. Rumahnya akan diterangi lampu bohlam atau neon. Anak-anak akan belajar lebih enak lagi karena sudah ada lampu. Tak perlu bersusah payah belajar dalam cahaya yang minim.

'Namun irigasi? Irigasi buat apa? Bukankah sudah ada empat sungai besar yang airnya  sangat mencukupi untuk irigasi? Ditambah sungai-sungai kecil. Bukankah tahun-tahun sebelumnya pertanian juga tidak terkendala pengairan? Ada yang tak beres!’ pikir Wajiman muda. 

“Jadi, saudara-saudara untuk menyukseskan program pemerintah ini, akan ada ganti rugi tanah dan tanaman berserta rumah yang ditinggali para warga. Selain itu juga penduduk akan diberangkatkan untuk transmigrasi ke Kalimantan, dan sebagian bisa pindah mencari tempat lain dengan uang ganti rugi,” tambah pak Lurah di depan warganya. 

Mendadak suasana berganti hening. Kepanikan tergambar dari wajah para penduduk desa. Rasa takut kehilangan tanah mulai menjangkit warga. Wajah sumringah penduduk mendadak berubah sayu. Di masa itu menolak pembangunan berarti menolak pemerintah. Itu berarti sama saja dianggap melawan Pancasila, dicap PKI bahkan nyawa pun bisa ikut melayang karenanya, itu semua sudah rumus Orde Baru. 

Wajiman tua ingat betul peristiwa itu, juga mereka yang di perahu, juga seluruh penduduk desa yang saat itu hadir. 

Perahu masih mengapung mengitari Kedungombo. Mentari yang memerah mengingatkan kembali peristiwa getir yang dialami saat itu.


**** Bersambung ****


** Pernah dimuat dalam Antologi cerpen 'Birai Kehidupan' terbitan YamaRose Publisher