Oleh : Eni Faridah 

Ia terisak sepanjang jalan. Kayuhan sepeda semakin melambat dibawah guyuran hujan. Seragam putih abu-abu pun melekat basah ditubuhnya. Semakin menampakkan kekurusan. 

Segala yang dilalui hari ini semacam hukuman tak termaafkan. Teman-teman di sekolah saling pamer dalam menyambut sebuah perayaan yang katanya sakral. Mereka berencana melakukan banyak hal dan mempersiapkan banyak kejutan. Namun, bagaimana dengan Priya? Apa yang perlu ia persiapkan? Apalah arti Hari Ibu? Sedang sejak bayi ia dibesarkan di panti asuhan. Jangankan memberi hadiah, bertemu sedetik pun belum pernah. 

Ia ingat betul bagaimana cara teman-teman menyudutkan keberadaannya. Pertanyaan-pertanyaan mereka tentu tidak sederhana.

Bagaimana jika salah satu pertanyaan itu seperti ; "Dimana ibumu? Apa kau bisa rayakan Hari Ibu tanpa ibu?", kata gadis belia yang pongah, Lilian. Anak seorang pejabat yang dibesarkan dengan kemewahan dan kenyamanan. Belum pernah ia rasai kepedihan seperti Priya. Baginya, dunia ini sudah seperti surga. Mungkin dia sudah gila dengan menganggap bahwa hidup hanya tentang bahagianya saja. 

Tentu tak ada jawaban untuk pertanyaan Lilian, selain air mata. Juga tidak ada peluk hangat ibu ditengah guyuran hujan, apalagi tangan ibu untuk mengajaknya pulang. Ia menggigil, tubuhnya bergetar. Kerutukan giginya seperti sedang mengunyah jagung goreng. Keras seperti hidupnya.

"Ibu dimana? Apakah aku tidak berarti bagimu, bu? Aku menantimu sepanjang hari, ratusan malam aku bermimpi untuk menemuimu. Tidak pernah aku temukan jawaban tentangmu, bahkan dari sekian tanya. Pengasuh bilang, aku ditemukan di teras panti. Tanpa identitas. Tanpamu". 

Tangis Priya memecah derasnya hujan. Ia menghela napas diatas sepeda yang melaju seperti kura-kura. 

"Bukankah kau susah payah melahirkanku bu? Kau bahkan menderita saat harus mengandungku, bukan? Sembilan bulan berada di perutmu dan aku merasa nyaman, tapi dengan mudahnya kau biarkan aku sendirian".

Kucur air mata Priya tak dapat lagi ditahan, menyaingi guyur hujan. Priya semakin menjadi. Ia berhenti mengayuh. Mengadu pada hujan. Air matanya mengalir bersama hujan menuruni pipi tirusnya. Matanya pun memerah sampai pada akhirnya ia mulai menepi. Disandarkannya sepeda di pohon tua. Ia mulai menata diri dan duduk di bangku trotoar kota. 

"Bu, aku bahkan tidak sempat melihat wajahmu. Terlalu dini kau ajarkan aku arti sepi. 18 tahun aku hidup sebatang kara tanpa kasihmu. Meski orang-orang di panti adalah keluargaku juga, tapi harapan untuk kau jemput sudah ku simpan dari dulu, bu. Aku juga menangkan lomba menulis karya ilmiah minggu lalu. Segalanya hanya untukmu, bu. Disini aku hanya bisa bermain dengan imajinasi. Membayangkan senyum banggamu padaku. Merasakan peluk seorang ibu. Aku iri dengan teman-temanku. Mereka punya ibu setiap hari. Mereka rayakan hari ibu". 

Ucapannya meratap. Ia terdiam sembari menutup mata sejenak. Kali ini ia berusaha mengatur napas dalam-dalam. Tenaganya sedikit terkuras karena erangan tangis. Dikumpulkannya sedikit tenaga untuk berkata-kata lagi. 

"Bagaimana aku rayakan Hari Ibu tanpamu? Semua terasa kosong. Kemana lagi aku harus mencari atau pada siapa aku harus bertanya? Tidakkah terbesit sedikit pun di benakmu untuk menemuiku, bu? Atau menuliskan secarik surat untuk menanyakan kabarku? Atau untuk sekedar memberiku nama? Aku lelah berkata-kata tanpa kau dengar. Aku lelah menunggu, aku lelah bu. Aku lelah". 

"Aku berdamai dengan keadaan setiap hari. Mencoba menerima kenyataan bahwa aku memang sendiri. Tanpa ku tau siapa dirimu, dimana, dan bahkan tanpa ayah. Kenapa aku dilahirkan?", lanjutnya.

Priya bangkit dari duduknya. Sejenak menundukkan kepala ditengah hujan yang mulai reda. Orang-orang mulai berlalu-lalang lewati trotoar. Dengan payung warna warni. Ditengah langkah dan sisa tenaga, Priya lirih berkata "Bu, aku rindu". 

Ia usap air mata terakhirnya. Beranjak pulang menuju panti. Ia berjalan menghampiri sepeda yang bersandar di pohon. Langkahnya gontai, tak tegak lagi. Bibirnya sudah sangat membiru dan menggigil. Priya ambruk. Pingsan. 

Dari kejauhan, seorang laki-laki lari menghampiri Priya. Laki-laki bertubuh kekar dengan tinggi badan sedang. Kumisnya bapang dan nampak begitu garang. Ia celingukan mencari angkot. Setelah menunggu beberapa saat, ia lambaikan tangan, ia gendong Priya menuju angkot. 15 menit perjalanan ditempuh. Ditengah kemacetan kota,  mereka sampai di Panti Asuhan A. Ibu pengasuh nampak gelisah mendapati Priya yang pingsan dengan tubuh basah kuyup. Semuanya basah. Kecuali buku-buku dalam tas yang ia bungkusi dengan tas plastik besar warna merah. Anak-anak panti membantu pengasuh mengurus Priya. Menggantikan pakaian dan membersihkan badannya. Sedang ibu panti menjamu tamu yang membawa Priya ke panti.  

"Saya temukan dia pingsan di trotoar bu", ujar lelaki kekar berkumis bapang itu. Duduk di kursi tamu dengan kopi panas di meja. Ditambah biskuit ala kadarnya.

"Terimakasih banyak, pak. Saya mengkhawatirkan dia. Apalagi hujan deras. Seharusnya dia sudah pulang dua jam lalu", jawab ibu pengasuh panti gelisah. 

"Dia sendirian di bangku trotoar. Saat berjalan menuju sepeda, dia pingsan. Saya langsung menghampirinya. Dia pernah menolong saya bu, saat motor saya mogok. Dia bantu dorong motor dan sempat saya tanyakan tempat tinggalnya. Katanya di Panti ini. Jadi, tanpa berpikir dua kali saya langsung hentikan angkutan umum untuk mengantar Priya kemari", terang lelaki itu. 

Langkah kaki kecil mulai terdengar pelan menghampiri mereka dan memotong pembicaraan. 

"Bu, kak Priya sudah sadar", ujar Aldi girang. Menarik tangan ibu pengasuh. Menggelendot dan berjalan menuju kamar Priya. Diikuti laki-laki bertubuh kekar itu. Ibu pengasuh duduk disamping kasur Priya. Membelai lembut pipinya. 

"Ibu menunggumu, nak. Hujan turun dan ibu khawatir. Aldi pun terus menanyakanmu. Ibu hubungi gurumu di sekolah tapi katanya kau sudah pulang".

"Aku baik-baik saja bu", ujar Priya menenangkan. 

"Tadi bapak ini menolongmu. Membawamu pulang. Kau pingsan di trotoar jalan", sambung ibu.

"Terimakasih, pak. Senang bertemu kembali", kata Priya lirih. Tidak hanya lirih, tapi lemah. Seperti tak punya tenaga. Bibirnya masih biru dan wajah pucat pasi. 

"Senang bertemu kembali Priya. Tapi keadaannya berbeda. Lekas membaik ya. Saya juga mau pamit". 

Lelaki itu menjabat tangan ibu pengasuh. Tangan dingiinnya juga mengusap kepala Priya sambil berpamitan. Syukurlah ada orang yang menolongnya. Entah apa jadinya jika ia tergeletak di jalan. Seonggok daging kesepian. Matanya sekarang terpejam dibalik selimut tebal. Ibu pengasuh tak henti-hentinya menciumi tangan Priya yang kurus itu. Perlahan ia membuka mata serta mulutnya.

"Bu, dimana ibu kandungku?", tanya Priya lirih.

Ibu pengasuh terkejut bukan main. Seketika menurunkan tangan Priya yang diciuminya. Ia menatap mata Priya dalam-dalam. Menjelajahi belantara kepalanya. Selama ini, Priya sudah tidak lagi mengungkit identitasnya sejak ulang tahunnya yang ke-11. 

"Aku rindu ibuku, bu", sambung Priya. Lamunan ibu pengasuh tersadarkan. Segera ia belai Priya. Ia merayu, mengalihkan pembicaraan. Beranjak mengambil sepiring makanan. Ia paham betul bahwa Priya tentu belum makan siang. "Ia tidak boleh sakit", gumamnya.

"Priya, makanlah. Kau harus tetap sehat. Kau ingat kan bahwa 2 hari lagi kita rayakan Hari Ibu. Kita butuh banyak persiapan. Kau suka kan?", sambil ia dorong sesendok nasi ke mulut Priya. 

"Hari Ibu tanpa ibu", kata Priya dengan senyum tipis yang getir. Ibu pengasuh mulai resah. Ia letakkan piring di meja samping tempat tidur Priya. Keraguan mulai bergelayut. 

"Haruskah kau tahu yang sesungguhnya?", pertanyaan ibu pengasuh penuh tanda tanya. Sudah pasti ada yang di sembunyikan. Sebelumnya, pertanyaan-pertanyaan Priya yang lalu juga sering dialihkan. Entah apa maksudnya. Bahkan Priya sering memendam rasa penarasannya. Seorang diri. 

"Aku berhak tahu bu. Aku lelah", ia teteskan air mata yang sejenak telah mengering. Kesedihan mulai menggelayut lagi. Priya berharap kali ini menemukan jawaban. Sesakit apapun, seburuk apapun. 

"Katakan bu", desak Priya. "Apa yang kurang dariku? Kenapa aku dibuang? Kenapa aku tidak diterima? Tidak ada yang mencariku. Tidak ada yang menjemputku disini. Aku tidak berharap dilahirkan jika nyatanya aku harus hidup sendiri seperti ini. Saat aku bertanya letak surga, katamu berada di telapak kaki ibu, tapi ibu yang mana?", seketika itu juga, ibu pengasuh mematung. Air matanya jatuh diatas selimut Priya dengan diiringi tangis Priya yang menambah haru suasana. Tangisnya meratap dalam ringkih tubuh yang lemah. Aldi dan yang lain lari menuju kamar Priya. Mematung dan meneteskan air mata pula. 

"Maafkan ibu, Priya. Waktu itu ibu menemukanmu tergeletak di teras. Kau tidur pulas diatas selimut tebal dan dengan gedhong merah muda, warna kesukaanmu. Memang tidak ada identitas. Lantas aku memberimu nama Priya. Aku sudah mengatakannya padamu kan? Tapi... Beberapa saat setelah aku menggendongmu, di ujung jalan ada yang tertabrak. Seorang wanita cantik. Sepertimu", ibu pengasuh menitikkan air mata untuk kesekian kali. Membelai pipi Priya. Meneruskan perkataannya. Sedang Priya mematung, tak sepatah kata pun terucap. Sudut matanya pun tak mengering. Semakin deras.

"Semua orang lari untuk menolong. Lukanya berat. Wanita itu tewas di tempat. Tanpa identitas. Tapi sebenarnya ia lari setelah meninggalkan mu di teras. Ia sempat dikejar penjaga pos yang sedang meronda malam itu. Dia terpergoki. Ketakutan. Lari sekencang mungkin hingga tidak memperhatikan jalan. Pengendara motor yang tidak sengaja menabrak pun terluka. Kami sudah coba hubungi polisi, Priya. Semua tertangani. Ibu minta untuk dimakamkan di daerah B saja. Agar kelak, saat kau sudah seharusnya tahu semua ini, kau bisa lebih dekat", terang ibu pengasuh. 

"Antarkan aku ke makam besok pagi, bu", Priya memohon dengan mata terpejam. Entah apa yang ada di kepalanya. Mungkin serupa perut gunung yang sibuk dengan aktivitas vulkanisnya. 

"Maafkan ibu, Priya. Maafkan ibu", ujar ibu pengasuh sesenggukan. Barangkali ia menyesal telah menceritakan segalanya dalam keadaan Priya yang lemah.

"Coba sekarang katakan, bu! Surga mana lagi yang kau maksudkan?", protes Priya dalam tangisnya. [*] 

Jombang, 22 Desember 2018