Oleh : Eni Faridah
Rasa pedih semacam ini
datang bertubi-tubi.
Ditengah kesunyian
yang paling sepi.
Aku meratapi
terjal hidupmu, ibu.
Semoga engkau tabah
dalam haru.
Karena yang mencair
dan jatuh bukan air mata.
Tapi kata-kata
yang mencari celah.
Berkali-kali aku mati
saat senyum mu memudar.
Berkali-kali pula
aku berdoa dan tak gentar.
Dalam pinta pada sang Kuasa.
Dengan naif,
kematianku yang sesungguhnya
harus terencana.
Bahwa sebelum bahagiamu dapat ku rengkuh,
Kain putih itu
tidak akan membungkus
tubuh putrimu.
datang bertubi-tubi.
Ditengah kesunyian
yang paling sepi.
Aku meratapi
terjal hidupmu, ibu.
Semoga engkau tabah
dalam haru.
Karena yang mencair
dan jatuh bukan air mata.
Tapi kata-kata
yang mencari celah.
Berkali-kali aku mati
saat senyum mu memudar.
Berkali-kali pula
aku berdoa dan tak gentar.
Dalam pinta pada sang Kuasa.
Dengan naif,
kematianku yang sesungguhnya
harus terencana.
Bahwa sebelum bahagiamu dapat ku rengkuh,
Kain putih itu
tidak akan membungkus
tubuh putrimu.
Jombang,
1 November 2018


0 Komentar