Oleh : Edy Susanto


Surabaya dalam duka.⁣
Minggu pagi darah mengalir di rumah Tuhan yang katanya suci.⁣
Noda yang tercipta dari keangkuhan atas nama agama.⁣


Sorga, ya sorga, kenapa bayangan indahmu menjadi alasan saling memusnahkan?⁣
Sorga yang mana yang kalian inginkan?⁣
Sehingga sesamamu halal untuk dimusnahkan.⁣
Sorga mana lagi yang pintunya dibuka dengan darah?⁣
Atau sorga tidak cukup besar bagi semua umat manusia?⁣


Mungkin juga kalian merasa tidak cukup jika sorga dibagi bersama-sama?⁣
Siapa kebenaran sejati?⁣
Apa kebenaran yang hakiki?⁣
Bagaimana kebenaran yang sebenarnya?⁣


Bagiku,⁣
Kebenaran mu adalah untukmu.⁣
Kebenaranku adalah untukku.⁣
Kebenaran mereka adalah untuk meraka.⁣
Bukankah cukup adil untuk tidak saling menyinggung dan membunuh?⁣
Lalu, mau bilang apa?⁣
Agama? Yang mana? Punya siapa?⁣


Ah… bukankah agama lahir dari kedamaian?⁣
Lalu kenapa ketakutan demi ketakutan yang kau munculkan?⁣
Bukankah Tuhan Maha Bijaksana?⁣
Lagi pula, Tuhan tak perlu dibela!⁣
Tuhan sudah Maha Segalanya.⁣
Lalu kenapa dengan pongahnya kau membunuh demi Tuhanmu?⁣


Ya, Tuhanmu, bukan Tuhanku, bukan Tuhan mereka, ya, hanya Tuhanmu.⁣
Sudahlah, aku mulai muak bermimpi tentang sorgamu.⁣
Ambil saja sorga itu untukmu dan golonganmu sendiri!⁣
Tapi.. sudah, jangan ganggu lagi kami!⁣
Biarlah mereka didunia sampai Tuhan mereka memanggilnya.⁣


Ya, bukan dengan caramu, tapi cara Tuhan yang bijaksana⁣
Ambil sudah sorgamu, sorga yang hanya untukmu, bukan sorga yang dimasa kanak-kanak sudah diangan-angan.



Kab. Semarang, 
14 Mei 2018

Ditulis sesaat setelah tragedi bom di gereja Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya Jemaat Sawahan Surabaya terjadi. 



*Note - Adapun maksud penulisan ulang dari puisi (sebelumnya puisi ini ditemukan kembali dalam bentuk gambar) karena dirasa isinya masih relevan pada kondisi Indonesia saat ini. Dimana radikalisme agama semakin terlihat dan konflik SARA mulai menyeruak keluar. Semoga puisi ini masih bisa merapatkan lagi jarak antar pemeluk agama, dan tidak ada lagi intoleransi agama.