Masih pagi
ketika Lek Paijo selesai menata dagangan di meja angkringannya, orang Jawa
bilang dasaran. Sama persis saat
penulis masih kecil bermain pasar-pasaran.
Ujug-ujug berhentilah sebuah mobil keluaran terbaru dan masih
kinyis-kinyis. Kinyis-kinyis koyo bojoku
25 tahun kepungkur rek, batin Lek Paijo.
"Hlo Min,
sangar koen saiki Min?", sapa Lek Paijo begitu melihat yang turun dari
mobil adalah Parmin.
"Ra nyongko
aku Min nek kui koe, wah wes sukses ceritane?", imbuhnya.
Masyarakat
Indonesia memang memandang kepemilikan kendaraan pribadi roda 4 sebagai sebuah prestise tersendiri. Khususnnya di desa,
orang yang bisa membeli mobil memiliki strata sosial yang cederung naik. Tetangga
tidak segan menyebutnya sebagai orang sukses. Tidak peduli betapa susahnya
orang itu mengangsur tiap bulannya. Begitu juga di kapungnya Parmin dan Lek
Paijo ini.
"Iyo nuh
lek, mosok nganggo motor terus?", jawab Parmin sambil jalan ke angkringan
lek Paijo.
"Raono
peningkatan kui lak sampean lek, soko mbien teko saiki kok dodolane mendoan mbi
bakwan terus, hehehehe".
"O hla
wedus", balas Lek Paijo ketus.
"Kopi
Min?", sambung Lek Paijo.
"Koyo
biasane lek, kopi pait gelas guedeeeeee poll", jawab Parmin sambil nyomot
mendoan panas dari talam di atas meja
angkringan.
Parmin biarpun
sudah naik mobil ternyta tidak sombong, dia masih tetap makan di angkringan Lek
Paijo yang tidak higienis dan murah. Biasanya orang di kampung Parmin begitu
naik mobil nongkrongnya pindah ke cafe. Biarpun di kafe pesannya cuma es jeruk
dan cemilan, yan penting bisa gaya. Beda dengan Parmin, dia tetap setia makan
dan nongkrong di kafe angkringan ala-ala Lek Paijo.
"Lek, koran
anyar endi lek?", seperti biasa.
"Kui nang
ngarep mu Min"
"Iki koran
wingi lek", jawab Parmin dengan nada ditekan.
"Picek to
matamu? kui hlo leh gulungan nang ngarep
mu", jawab Lek Paijo dengan umpatan khas jawanya.
"Owwww hla
ra kondo lek, tak kiro leh gawe tutup bawan iki lek, hehehehe", kata Paijo sambil pringas-pringis.
.
.
Pendemo menuntut
presiden menepati janjinya, salahsatunya adalah mobil nasional ESEMKA yang
sempat dijadikan ajang kampanye presiden 2014 yang lalu. Tulisan di koran yang
dibaca Parmin.
"Nah to
lek, ESEMKA ora dadi-dadi teko saiki", kata Parmin kemudian.
"Jarene pas
kampanye ape ndukung ESEMKA, saiki mandang wes dadi ESEMKA ora ditepati", katanya lagi, tapi Lek Paijo masih
diam.
"Pancen
ngapusi kok lek, tetep kudu ganti lek", sambungya.
Saat ini memang banyak hal yang enak digoreng
untuk kepentingan politik. Jangan dikira
Cuma mendoan yang dimakan Parmin saja yang digoreng dan enak disantap pas
masing hangat. Isu-isu nasional juga sering digoreng sampai panas untuk
menjatuhkan lawan politik ataumenaikkan elektabilitas politisi yang diusung.
Salah satunya adalah ESEMKA,mobil yang sejak tahun 2012-an silam
digadang-gadang menjadi mobil nasional atau mobnas. Tapi sayangnya sampai
sekarang ESEMKA masih belum mengaspal dan belum ada di pasaran.
Nahasnya, ESEMKA sendiri dulunya menjadi
andalan Jokowi ketika masih menjabat walikota Solo. Tidak bisa dipungkiri juga
bahwa elektabilitas jokowi saat itu salah satunya juga terdongkrak oleh mobil
besutan anak sekolah di Solo itu. Komitmen jokowi saat itu diwujudkan dengan menjadikan
salah satu mobil ESEMKA menjadi mobil dinasnya saat itu. Selain itu juga
dirinya jugamendukung ESEMKA untuk melakukan uji kelayakan saat itu. Dirinya
sendiri yang menyetir mobil ini saat akan dilakukan pengujian kelayakan saat
itu.
Sayangnya saat itu mobil ini tidak lolos karena gagal dalam uji emisi. Saat itu kadar CO mobil ESEMKA mencapai 11,6 gram per kilometre dan HC+NOX mencapai 2,69 per kilometre. Sedangkan berdasarstandar kementerian lingkungan hidup dalam keputusanmenteri lingkungan hidup no 4 tahun 2009, kadar CO yang dijinkan harus di bawah 5 gram per kilometre, dan HC+NOX berada di bawah 0,70 gram per kilometre.
Sayangnya saat itu mobil ini tidak lolos karena gagal dalam uji emisi. Saat itu kadar CO mobil ESEMKA mencapai 11,6 gram per kilometre dan HC+NOX mencapai 2,69 per kilometre. Sedangkan berdasarstandar kementerian lingkungan hidup dalam keputusanmenteri lingkungan hidup no 4 tahun 2009, kadar CO yang dijinkan harus di bawah 5 gram per kilometre, dan HC+NOX berada di bawah 0,70 gram per kilometre.
“Kan wayah kae ora lolos uji kelayakan to
Min?”, jawab Lek Paijo sambil menaruh gelas isi kopi hitam untuk Parmin.
“Kan kudu sesuai standard disek min, dadi
kudu riset maneh nek jarene wong kuliahan”, imbuhnya.
“Tapi kok risete opo mbuh mau istilahe opo
sue banget lek??”, bela Parmin.
“Mosok teko saiki ora ndang dadi?”, imbunya.
“Mungkin yo demi kualitas mbi ngoyak standart yang berlaku to min”, jawab lek Paijo.
“Tapi kan saiki yo uwis mbangun pabrik nang
Boyolali Min, sedelok nkas mungkin wes iso produksi”, Lek Paijo menjelaskan.
“Halah, kesuen riset, paling yo mutune ora
apik lek, palingan rusakan", sambar Parmin sambil nyeruput kopi panasnya.
Seperti sudah lumrah untuk tidak percaya pada
produk dalam negeri. Produk asing selamanya dianggap memiliki kualitas yang
lebih unggul, dan akhirnya pasarnya dikuasai asing. Produk asing selalu laris
manis dan produk dalam negeri menjadi pilihan kesekian setelah produk-produk
asing. Pun begitu dengan munculnya ESEMKA, sejak awal munculnya pun mendapatkan
banyak komentar minor juga, meskipun banyak juga komentar yang mendukung. Hal lumrah bagi setiap barang produksi dalam
negeri.
“Nopo to Min kok ngoyak-oyak ESEMKA ndang
produksi?”, tanya lek paijo.
“Opo ape ngijolke mobil mu dadi mobil ESEMKA?
Lumayan hlo min, nglarisi produk dalam negeri”, tambahnya.
“Yo ora lek, kan janji politik kui lek”, jawab
Parmin.
“Hlah, kan yo urusane presiden ora mung ESEMKA
min, ono blok Rokan, ono Freeport leh emas e jare sak gunung, ono ngurusi
pindad, lan liane min”, Lek Paijo menjelaskan sambil terus nggoreng mendoan
kesukaan Parmin.
Parmin masih diam, hanya seperti membaca
Koran sambil makan mendoan yang ke -5 nya.
“Nopo to min ora gelem ngijolke mobil mu
ganti ESEMKA ae min? kan yo regoneora bedo adoh min”, lanjut Lek Paijo.
“Mobil ku ijeh kredit lek, toh emoh aku lek, kualitas e ga terjamin, harga jual e mesti anjlok,spareparte mesti yo angel lek”, jawab si Parmin.
“Kan cinta produk dalam negeri min”
“Pokoke emoh lek, eman-eman”, bela Parmin
kemudian.
Hal lumrah lainnya adalah sikap masyarakat
sendiri yang selalu menuntut ketika ekonomi lesu, menuntut Negara berpihak pada
produksi lokal, tapi tidak pernah masyarakat mau membeli produk lokal. Hanya
sedikit orang yang mau dan benar-benar lebih memilih membeli produk dalam
negeri daripada produk asing. Rakyat yang gajinya UMR lebih memilih makan di
kafe daripada angkringan seperti milik Lek
Paijo ini. Apaalagi untuk beli mobil, tentu ESEMKA nantinya akan mengalami
kesulitan pasar saat kondisi mental masyarakatnya masih seperti ini. Bahkan
pejabat yang sering gembar-gembor untuk beli produk dalam negeri nyatanya juga
lebih banyak yang memilih beli produk luar negeri yang harganya sangat-sangat
mahal.
Hal yang sangat bertolak belakang dari
harapan kemandirian ekonomi nasional. Bertolak belakang juga dengan semangat
untuk mencintai produk dalam negeri.
Tiba-tiba Parmin berdiri dari duduknya,
diambilnya gelas kopinya tadi,diminumnya sampai tinggal ampasnya saja.
“Hlo, ape nang ndi Min?”, tegur Lek Paijo.
“Mangkat kerjo to lek, kawanan iki aku” , balasnya sambil jalan ke mobil barunya.
“Bayar sek min, ngawur ae koen iku”, sahut Lek Paijo.
“Koyo biasa lek, utang sek”, jawab Parmin.
“Duite gawe setor dealer sek lek”, imbuhnya.
‘Tuut tuut-ceklek'
suara central lock mobil dibuka, Parmin kemudian masuk dan pergi.
suara central lock mobil dibuka, Parmin kemudian masuk dan pergi.
“Tak kiro gowo mobil duite akeh min, tibake ijeh podo kerene", gumam Lek Paijo dalam hati. - (Edy)


0 Komentar