Julukan “Negara Sepakbola” mungkin lebih pantas disematkan bagi Indonesia ketimbang Italia atau Belanda.

Biarpun tidak pernah masuk Piala dunia, tapi hegemoni supporter sepakbola selalu lebih menggema dibanding di kedua Negara tersebut. Toh nyatanya sekarang Indonesia, Belanda dan Italia satu level, maksudnya sama-sama tidak masuk Piala Dunia 2018 Rusia beberapa minggu lalu.  Bagi supporter Italia dan Belanda tolong jangan diambil hati, itu sekedar intermezzo untuk melipur hati sendiri yang tidak pernah bisa melihat Negara Indonesia berlaga di piala dunia kemarin.

Biarpun tidak pernah main di piala dunia dan bahkan masuk ke piala Asia saja tidak rutin, supporter Indonesia nyatanya masih selalu memadati stadion-stadion dimana timnas Indonesia selalu berlaga, biarpun lawannya kadang hanya tim-tim lokal kasta bawah. Itu bukti bahwa hooligan-isme sepakbola supporter Indonesia jauh lebih tinggi daripada supporter Negara manapun.

Fanatisme supporter Indonesia ternyata tidak hanya berlaku bagi laga-laga timnas saja. Pada pertandingan liga 1, Stadion-stadion selalu dipadati supporter dari masing-masing klub. Dalam setiap pertandingan, supporter selalu gemuruh menyanyikan yel-yel untuk membakar semangat timnya masing-masing.

Rata-rata penonton di stadion saat laga liga 1 dimainkan bahkan lebih dari 20 ribu penonton. Bahkan ketika Persija yang main, rata-rata supporter yang hadir di stadion mencapai 40 ribu penonton (berdasar data dari bolasport.com.). Sayangnya, yang fanatik-fanatik ini kemudian malah berkembang pada radikalisme dan menyebabkan kericuhan ketika timnya kalah, apalagi kalau kalahnya di kandang.
Baru beberapa hari kemarin terjadi kericuhan di stadion Jakabaring saat Sriwijaya FC kalah 0:3 dari Arema. Suporter yang tidak terima timnya kalah apalagi kalahnya dikandang,ditambah kalah banyak membuat bangku stadion yang sudah single seat dicabuti dan dilempari penonton yang kecewa.

Sebenarnya, kejadian seperti ini, sampai pengrusakan stadion itu hal biasa di Indonesia. Tapi nahasnya insiden ini terjadi berdekatan dengan akan dilangsungkannya Asean Games 2018 di Jakarta-Palembang. Sialnya lagi, stadion Jakabaring menjadi salah satu venue utama untuk Palembang. Jadilah kemudian insiden ini menjadi super-viral dan diperbincangkan banyak kalangan. Bahkan mungkin juga mereka yang biasanya ikut bikin ricuh di stadion lain sok-sokan ikut menghujat.

Sebelum insiden ini, telah terjadi juga insiden supporter Arema dan Suporter Persib ketika keduanya bertemu di stadion Kanjuruhan (15/4). Pemicunya juga sama setidaknya dari perkembangan pemberitaan media, yaitu ketidak puasan tim tuan rumah terhadap wasit sehingga sampai injuri time kedudukan masih imbang 2-2. Kondisi ini menjadikan pertandingan berlangsung kasar dan memanas. Panasnya pertarungan di lapangan memicu supporter yang sudah kepanasan menjadi tambah panas, dan penonton di tribun timur kemudian merangsek masuk ke lapangan, dan terjadilah tawuran masal antar supporter dan aparat keamanan. Kerusuhan ini mengakibatkan banyak fasilitas stadion Kanjuruhan yang rusak, padahal setiap saat penikmat sepakbola selalu ngedumel tentang fasilitas stadion Indonesia yang katanya tidak mendukung perkembangan sepakbola Indonesia. Kondisi yang kontraproduktif yang terus saja terjadi.

Sebelum dua kejadian yang dianggap maha besar itu terjadi, memang sepakbola Indonesia dalam sejarahnya sudah banyak diwarnai keributan-keributan supporter. Banyak pertandingan-pertandngan yang diwarnai keributan supporter, apalagi jika pertandingan itu mempertemukan dua tim musuh bebuyutan. Jangan harap tidak ada keributan jika Persija kalah di kandang melawan Persib, begitu juga sebaliknya. Sudah sejak lama penikmat sepakbola Indonesia tahu kalau Bobotoh dan The Jak adalah musuh bebuyutan. Dimana pun pertandingan dihelat, mereka pasti akan ribut, bahkan sebelum pertandingan dimulai. Tidak berbeda juga ketika Persebaya kalah dari Arema di kandang, atau Persebaya kalah dari Persis, atau sebaliknya. Kalau ada taruhan untuk menebak ricuh atau tidak, yang pilih ricuh pasti auto kaya. Pun begitu dengan pertandingan lain, PSIS lawan Persijap misalnya atau Persis lawan PSS, dan mungkin juga hampir semua pertandingan di liga 1.

JIka harus merumuskan kesimpulan dari tulisan di atas sebenarnya sangat mudah, bahkan tidak harus sarjana untuk bisa memahami kondisi sepakbola Indonesia, bahkan anak SMA atau bapak-bapak yang tiap hari nongkrong di warung kopi sambil nonton bola juga bisa menyimpulkan, karena, semua orang harus mengakui bahwa klub-klub sepakbola di Indonesia tidak boleh kalah di kandang. Jika kalah, hampir bisa dipastikan para pendekar keluar dan stadion menjadi area perang seperti Mobile Legend yang sedang booming. Jika sudah begitu, pentungan aparat, bahkan sampai water canon pun tidak akan mampu meredamnya. Yang bisa menghentikan kericuhan-kericuhan itu hanya satu, ya seperti di atas tadi, tim tuan rumah harus menang.

Tapi kembali lagi, itu semua hanya analisa dari penikmat sepakbola yang bahkan ke stadion pun jarang, jika memang ada ketidak sepahaman dengan tulisan di atas, mohon jangan diambil hati. Semoga ke depan dengan refleksi ini, insan persepakbolaan nasional memahami untuk lebih bersikap dewasa  dalam rangka memajukan sepakbola Indonesia. Salam sepakbola Indonesia.