Selamat siang teman-teman yang setia membaca OpiniSastra, saat ini
saya akan membagikan tulisan yang secara medadak teringat dipikiran. Tulisan
tentang faktor-faktor yang menjadikan pengorganisasian pemuda mandek. Memang
belum saya tuliskan tentang pentingnya membangun pengorganisasian pemuda,
sehingga mungkin pembaca di sini akan bertanya-tanya apa efek yang ditimbulkan
ketika pengorganisasian pemuda mandek. Tapi tidak apa-apa, segera akan saya
susulkan artikel tentang pentingnya pengorganisasian pemuda di era saat ini,
nanti di episode berikutnya. Untuk itu silahkan dibaca ini dulu sebelum nanti bisa
membaca tentang petingnya pegorganisasian pemuda.
Belajar merupakan sebuah kebutuhan vital bagi setiap manusia dalam
rangka menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan dan kehidupan yang
senantiasa berubah. Tak berlebihan jika
kemudian terjadi pergeseran paradigma dalam memaknai fungsi vital proses
pembelajaran, dari suatu proses transmisi budaya, menjadi transformasi
pengetahuan, kemudian sebagai proses penemuan sepanjang hayat terhadap apa yang
dibutuhkan untuk diketahui (Zainuddin Arif dalam Halim Malik, 2011: 2).
Pengorganisasian Pemuda menjadi tantangan dalam melahirkan
kader-kader muda potensial. Tantangan ini bukan hanya menjadi kewajiban
pemerintah saja sebenarnya. Mengingat fungsi dari pengorganisasian pemuda salah
satunya ebgai kontrrol kebijakan yang dibuat oleh pemerintah, maka masyarakat
umum,khususnya mereka yang peduli pada gerakan social dan perubaan juga
mendapatkan PR yag sama. Ada banyak factor yang menyebabkan pengorganisasian
pemuda di tingkat basis mandek. Diantaranya:
1.
Figur Kepemimpinan
Di dalam sebuah komunitas yang belum
tertata secara politik, atau budaya yang mulai tereduksi menjadikan pemuda
mudah terombang-ambing. Sosok pemimpin akan dibutuhkan komunitas sebagai
“panutan” mereka dalam kesehariannya. Saat di komunitas pedesaan nyaris tidak
ada figure seorang pemimpin yang dicari pemuda. Kecanggihan teknologi dan
kemudahan ases informasi semakin menjadikan tidak tampaknya orang-orang
disekitar yang bias dijadikan panutan. Tidak adanya figure yang mampu mengikat
ini nejadikan pemuda tercerai di
desanya.
2.
Sistem dan Manajemen Organisasi
Di Negara-negara Eropa maupun Amerika
menjadikan system sebagai alat pembentukan karakter warganya, termasuk kalangan
muda. Maka yang dibutuhkan oleh merka adalah system yang dapat diterapkan
disemua lini dan tempat sehingga system ini mampu menciptakan karakter pemuda
sebagaimana yang merka inginkan.
Hal ini tidak terjadi di Indonesia –
juga anggota SPPQT – secara umum. Dengan sejarah dan budaya yang berbeda
tentunya system dan manajemen yang digunakan harusnya berbeda. Untuk itu
diperlukan system dan manajemen yang sesuai dengan karakter kita sehingga
menghasilkan capaian yang diinginkan.
3.
Issu Bersama
Rataan Tingkat pendidikan dari tahun
ketahun sebenarnya meningkat. Jumlah pemuda lulusan sarjana di desa sebenarnya
juga tidak sedikit. Namun ketiadaan issu dan kepentingan bersama menjadikan
mereka tercerai-berai. Para sarjana desa ini seolah bergerak sendiri-sendiri
hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Keadaan ini seolah menjadikan mereka
seperti tongkat-tongkat berserakan, namun tidak mampu menyusun dirinya dengan
rapi sehingga mampu menjadi sebuah rumah yang kuat.
4.
Disorientasi Gaya Hidup
Di tahun 1980-an sampai tahun
1990-an, Negara kita bias dikatakan sebagai sebuah Negara agraris, Negara
penghasil pertanian. Saat itu hasil pertanian seperti Beras dan jagung
merupakan komoditas utama. Dari segi budaya, di tahun-tahun itu berbagai
kesenian local seperti kethoprak maupun ludrug menjadi hiburan yang dibisa
dinikmati setiap saat. Atau permainan tradisional namun sarat makna persatuan
seserti betengan menjadi hiburan setiap sore.
Kemajuan teknologi menjadikan tidak
adanya sekat antar bangsa mempermudah akukturasi budaya. Budaya-budaya setempat
menghilang digantikan budaya-budaya barat yang setiap detik manjadi sajian
uatam dalam kehidupan sehari-hari. Media elektronik juga berkontribusi sangat
besar dalam perubahan gaya hidup pemuda di desa.
5.
Dukungan Pemerintah
Persiden Soekarno mengatakan,”
Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia.” Ini menunjukkan bahwa
perubahan menuju kebaikan, bahkan di tingkat desapun diperlukan dukungan
pemerintah, terutama pemerintah desa. Dukungan ini harus masuk dalam kebijakan
di tingkat desa sehingga akan ada rumusan-rumusan yang diperlukan serta dapat
dikorekasi dan dievaluasi bersama.
Bagaimanapun pemuda akan sangat kesulitan
berjuang sendirian, apalagi dalam keadaan tercerai-berai untuk berkontribusi
dalam perbaikan di desanya. Pemerintah perlu memberikan kepercayaan pada mereka
agar ilmu yang didapat di bangku pendidikan tidak sia-sia.
Persoalan-persoalan yang
diuraikan di atas memang tidak boleh sekedar menjadi pesoalan yang didiamkan.
Mendiamkan masalah bersama merupakan satu kesalahan awal yang membawa keruntuhan
martabat bangsa. Untuk itu, harus ada pengorganisasian kuat dengan penanaman
ideology kebangsaan dibaliknya, sehingga kader yang tercetak benar-benar kader
yang hebat. Hal ini akan kita bahas nanti pada tulisan berikutnya. Semoga
tulisan berikutnya masih bias meginspirasi semuanya untuk bergerak dan mlakukan
perubahan.
Kab.
Semarang, 28/7/18
Edy Susanto (aktivis SPPQT)
**pernah dimuat di plukme dengan judul yang sama.


0 Komentar