Tanpa sengaja aku bertemu gadis yang sama saat pertama kali belajar di tempat les, di basecamp organisasi kala itu. Gadis kelas 1 SD yang jika membaca masih harus mengeja. Gadis yang aku temui setiap seminggu sekali disana. Tingkah polos dengan pembawaannya tetap saja ceria di siang bolong seperti ini. Tidak banyak perubahan dari dirinya, rambut pun tetap sama seperti Dora. 

Gigi seri yang belum tanggal itu masih nampak rapi tiap kali senyum tersungging. Juga kulitnya yang tak luput dari pengamatanku. Nampak sedikit lebih gelap, mungkin dia kelayapan di siang hari, dalam hati aku berkata. Nyatanya, siang ini dia dihadapanku.

"Mbak", sapanya meringis. 

Memecah keheningan perpustakaan daerah. Seolah hanya ada aku dan dia. Saat orang lain sibuk memikiran diri sendiri dengan laptop, gadget maupun buku, dia beranjak dari kursi dengan susah payah, karena terlalu tinggi. 

Aku mulai mendekat dan ia menghampiriku dengan lincah lalu menggelendot seperti biasanya. Entah apa yang dilakukan disini dan dengan siapa dia kemari. Pun tak ada buku dimeja yang ditempati. Seragam sekolah SD merah putih yang khas masih juga dikenakan dengan tas ransel hello kitty di punggungnya. 

Aku belai rambutnya yang lembut dan lurus tapi pendek itu.

"Sama siapa disini?", tanyaku sambil membungkuk untuk berbincang dan  menyamai tinggi badannya.

Keringat diwajahnya seperti butiran jagung yang berjejer dan sesekali dia mengelap.

"Sendiri mbak. Aku naik sepeda kesini", ia mengadu dengan begitu polosnya. 

Ku tengok keluar, celingukan. Mencari - cari sepeda kayuh yang dia tunggangi. Benar saja, sepeda mini warna ungu itu yang mengantarnya kemari. Astagaaa... Dia mengayuh sepeda hingga ke perpustakaan? Gumamku dalam hati. 

Meskipun jarak sekolahnya ke perpustakaan tak cukup jauh, tapi jalanan tentu mengkhawatirkan untuk bocah seusianya. Sudah barang tentu bocah ini tanpa pengawasan, terutama ibunya.

Masih sangat ku hafal raut muka saat dia mengadu pertama kali. Seolah aku ini sahabat yang bisa dia percaya tanpa basa - basi. Saat aku menuntunnya mengeja, melafalkan huruf demi huruf seperti mantra, memahami kata demi kata, ia bercerita disela - sela waktu. Baginya tak seperti cara ibu, yang tiap kali belajar dirumah selalu kena marah. Masih sangat ku hafal pula perubahan diraut wajahnya saat itu. Senyum girang yang menipis hilang entah kemana.

"Kok ngga pulang? Nanti dicari ibu", tegurku sambil mengajak duduk ditempat ia sebelum menyambutku.

"Tadi temanku diajak ibunya beli buku. Tapi uangku tinggal seribu", sambil ia keluarkan selembar uang yang lecek, mengadu sejujur - jujurnya dan polos tak terkendali.

"Makanya aku kesini aja mbak", imbuhnya

Aku telan mentah - mentah segala yang dilontarkan tanpa berpikir panjang, tanpa kecurigaan. Mustahil dia mengarang cerita hidupnya. Mustahil jika hidupnya sedramatis drama korea dan mengibakan seperti ini. Yaa, tentu mustahil. Dia bukan sutradara gadungan, bukan penulis script sinetron beribu episode, dia hanya gadis lugu yang masih harus mengeja buku sekolahnya.

"Kamu kok berani kesini sendiri?", tanyaku mengintrogasi dengan tatapan tajam.

"Berani. Dulu pernah diajak Bu Guru kesini. Bareng sama temen - temen. Seruuuu!", terangnya sambil membuka botol minum bergambar doraemon. Khas milik anak - anak. Mungkin dia kelelahan atau panas siang ini benar - benar mengeringkan tenggorokannya.


"Mau kemana mbak?", tegurnya.

Aku mulai beranjak meninggalkan dia. Ku toleh dan ku beri jawaban seadanya. 

"Sebentar ya", jawabku singkat dan berlalu menghampiri deretan buku anak - anak yang tertata rapi disepanjang rak perpustakaan itu. 

Mataku menjelajah cepat mencari judul yang menarik dan akhirnya aku temukan satu yang berjudul "Si Bolang". Dengan sigap aku ambil tanpa berpikir dua kali.

Buku yang sama, yang ku beli untuk adikku saat dia di ruang ICU berjuang melewati masa kritisnya. Buku yang berisi tentang keberanian, yang sempat aku dongengkan, dengan harapan agar dia berani melalui segalanya beriring harapan.

Segera aku kembali menemani gadis itu, sembari menyeka air mata di sudut.

"Ini, coba kita baca", ajakku. Tak tegak lagi cara duduknya, sedikit tenggelam. Mungkin lelah, gumamku.

"Tapi dieja ya mbak?", ia menawar dan tanpa mengiyakan, aku hanya mengangguk. 

Diambilnya buku itu dari tanganku. Ia amati setiap sudut sampul yang warna warni. Ada gambar si bolang yang memakai topi merah dan berlatarkan rimba. Tak lama mulutnya mulai terbuka mengeja judul pada sampul itu.

"S-I si, B-O bo, L-A la, eng (NG). Si Bolang. Si Bolang kan mbak?", tanyanya memastikan. 

Aku anggukan kepala dengan membukakan lembar selanjutnya untuk dibaca. Ia memulai kalimat pertama. Sedangkan bocah laki - laki berkaca mata tebal dengan buku biologi ditangan, yang duduk di samping ku, dan yang juga ku perkirakan masih SMA, sepertinya mulai terganggu dengan cara baca gadis itu. Berkali-kali mencoba membenarkan tempat duduknya. Nampak gelisah.

"Suaranya bisa dipelankan mbak?", sambarnya tanpa ragu.

"Ya mas, maaf yaa. Lagi belajar juga", jawabku sambil meringis terpaksa. Gadis itu pun menghentikan ejaannya.


Bahkan dengan angkuhnya, bocah laki - laki itu tidak merespon apapun, baik senyum maupun anggukan. Dasar! Gerutuku. Betapa tidak ramahnya pelajar yang katanya terdidik itu. Tatapannya saja membuat anak gadis ini mengkerut, menghentikan niatnya untuk membaca. Gadis ini nampak tertunduk saat ku toleh.

"Hey, kenapa? Dieja lagi gapapa. Tapi bisa dipelankan suaranya", kataku berusaha menenangkan.

"Gapapa mbak. Nanti saja", jawabnya lesu sembari menutup buku. Namun, otakku berputar mencari akal atau setidaknya bahan pembicaraan.

"Besok ketemu ya ditempat les? Nanti tak bawakan buku ini, bisa dipinjam kok. Tapi ijin dulu. Tunggu yaa?", bujukku padanya tapi tak diiyakan. 

Dia pun mulai beranjak menuruni kursi, berpamitan dengan wajah murung.

"Aku pulang mbak, nanti dicari ibu", tandasnya mantab. 

Dia berjalan meninggalkan aku dikursi itu. Melenggang seperti tanpa tenaga. Sial! Aku pun belum mengajaknya makan siang. Tertegun aku  memandangi langkahnya hingga semakin jauh dari pandangan. Segera aku datangi pusat layanan peminjaman. Buku ini akan ku bawa untuknya. Meski dia masih harus mengeja. [*]


Jombang, 29 September 2018
-enifaridah-