"Mbak, ini gimana?", tanya seorang gadis yang wajahnya asing bagiku.
"Mana? Sini sini", tanyaku seraya meminta.
Perlahan dia mendekat dan menyodorkan Buku Tematik Kelas 1 SD. Dari sampulnya, cukup menarik dan kurasa sesuai dengan usianya.
"Ini mbak, gimana?", tanyanya manja, menggelendot, dan penuh keceriaan.
Tak henti - hentinya dia tersenyum ringan sejak pertama kali datang. Memang, aku baru bertemu dengannya hari ini, seorang gadis kecil dan manis dengan potongan rambutnya seperti Dora.
Kulihat sekilas ada 10 soal pilihan ganda. Dimana soal - soal semacam itu tidak asing tertulis pada buku anak sekolah sebagai bahan latihan mereka. Tak cukup banyak teori, atau bacaan yang sesuai porsi. Halaman demi halaman tentunya soal uraian atau silang menyilang, yang cara menjawabnya bisa saja dengan menghitung kancing baju, tanpa logika berarti atau nalar yang tinggi.
"Ya coba dibaca dulu, dikerjakan sebisanya, nanti kita bahas ya?", jelasku.
Dia tersenyum tanpa mengiyakan. Sejenak aku bingung dan mencoba lebih mengakrabinya. Sedang yang lain bersahut - sahutan mengadu padaku.
"Dia gabisa baca mbak", kata Rachel.
"Harus dibacakan dulu mbak", sambung Caca.
"Iyatuh mbak, susah. Harus mengeja dulu", kata Dina mencoba memperkuat.
Dalam keadaan sadar, aku tentu mendengar mereka berbicara dan seketika itu juga aku terpaku. Berharap apa yang aku dengar salah. Tanpa menanggapi aduan mereka, aku pandangi gadis itu. Dia tersenyum sembari menunjukkan gigi serinya yang bahkan belum tanggal.
"Serius?", tanyaku dengan nada penasaran.
"Iya mbak, dieja dulu", terang gadis itu dengan lagi - lagi menunjukkan giginya.
"Yasuda gapapa, ini soalnya dieja dulu ya. Coba dimulai dari nomor satu", pintaku.
Mulut gadis itu mulai terbuka melafalkan huruf - huruf yang dieja. Aku menuntun kata demi kata yang ia tunjuk dengan jemari mungilnya hingga dia memahami maksud dari soal. Meskipun satu kata yang telah dibaca mudah terlupakan, aku tetap menemani hingga 2 soal dipahaminya.
"Gapapa, diajak membaca saja dulu", kata temanku yang juga sibuk mendampingi yang lainnya.
Aku tersenyum dan terus menemani gadis itu untuk sampai pada pemahaman soal. Hingga waktu terasa berjalan begitu melambat. Seolah kesabaranku perlu untuk dilatih.
Disela - sela mengeja, kuamati gadis itu sesekali menghela napas panjang. Dalam benakku, mungkin saja dia lelah. Tanpa ragu aku memenuhi rasa penasaran yang menggelayut dalam kepala sehingga aku memulai dengan pertanyaan seperti ini :
"Kalau dirumah belajar sama ibu ngga?", tanyaku.
"Iya mbak", jawabnya singkat.
"Iya mbak", jawabnya singkat.
"Belajar membaca juga?", tambahku.
"Iya, tapi ibu suka marah - marah kalau ngajarin aku", jawabnya polos sambil meringis.
"Kenapa kok marah - marah?", tanyaku semakin penasaran.
"Nggatau tuh ibu", jawabnya lebih polos lagi.
Dadaku tiba - tiba sesak, sedangkan banyak pertanyaan yang berkeliaran di kepala. Jikapun harus aku tanyakan, wajah gadis ini terlalu polos untuk menjawabnya. Keibaanku sungguh tak sampai.
Jombang, 20 September 2018
-enifaridah-


0 Komentar